Swaracendika.id – Di tengah ramainya kawasan Stadion Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang, aroma manis mille crepes menarik perhatian pengunjung. Di balik lapak sederhana itu berdiri Sendi, pedagang mille crepes yang sebelumnya mengadu nasib di kawasan Dieng. Perpindahan lokasi menjadi langkah penting dalam perjalanan usahanya.
Sendi mengaku kepindahannya ke kawasan Stadion Kanjuruhan bukan tanpa alasan. Ia mengikuti dan bekerja untuk pihak lain yang membuka lapak di kawasan tersebut. Keputusan itu menjadi titik balik yang membuka peluang pasar lebih luas.
Mille Crepes, Jajanan Manis yang Diminati Banyak Kalangan
Mille crepes atau kue seribu lapis dikenal sebagai makanan penutup yang tengah digemari. Teksturnya yang lembut dan tampilannya yang sederhana membuat jajanan ini digemari anak muda hingga keluarga.
“Peminatnya cukup banyak, apalagi saat akhir pekan,” kata Sendi di sela-sela melayani pembeli.
Tingginya minat tersebut menjadi faktor utama meningkatnya angka penjualan setiap bulan.

Omset Capai Rp5 Juta per Bulan
Dari hasil berjualan di Kanjuruhan, Sendi menyebut omset penjualan mille crepes yang ia kelola bisa mencapai Rp5 juta per bulan. Angka ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi dari usaha kuliner jalanan bila dikelola dengan konsisten dan berada di lokasi strategis.
Namun, Sendi menegaskan bahwa omset tersebut merupakan hasil penjualan keseluruhan.
Bekerja untuk Orang Lain, Tetap Penuh Harapan
Meski omset mencapai jutaan rupiah, Sendi mengungkapkan bahwa uang hasil penjualan dipegang oleh pemilik usaha. Ia berperan sebagai tenaga penjual yang menjalankan operasional lapak setiap hari.
Meski demikian, Sendi tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh semangat. Baginya, pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk memahami dunia usaha kuliner.
Potret Peluang Bisnis Kuliner Jalanan
Kisah Sendi menjadi gambaran bahwa bisnis kuliner, khususnya makanan yang sedang tren seperti mille crepes, masih memiliki peluang besar. Dengan kerja keras, ketekunan, dan pemilihan lokasi yang tepat, pedagang kecil mampu terlibat dalam perputaran ekonomi bernilai jutaan rupiah.
Di lapak sederhana Kanjuruhan, Sendi terus melayani pembeli, sembari menumpuk pengalaman, setipis lapisan kue yang ia jual, namun penuh rasa dan harapan. (Rehan/Cb1)