Awal Perjalanan Wisata Edukasi Religi SMK Cendika Bangsa ke Blitar
swaracendika.id-Udara pagi di halaman SMK Cendika Bangsa terasa berbeda dari biasanya. Langit biru, barisan siswa kelas X yang rapi, dan suara riuh penuh semangat menjadi pertanda dimulainya petualangan yang tak sekadar liburan.
Hari itu, ratusan siswa bersiap menuju Wisata Edukasi Religi (WER) di Kota Blitar — perjalanan yang menggabungkan nilai edukasi, religi, dan kebersamaan dalam satu napas.
“Kegiatan ini bukan sekadar rekreasi, tapi juga sarana pembentukan karakter,” ujar Ahmad Hubaibi Amri, ketua pelaksana WER. “Kami ingin siswa belajar menghargai perjuangan, memahami nilai luhur, dan mempererat ukhuwah di antara mereka.”
Meneladani Api Semangat dari Makam Bung Karno
Bus melaju menembus jalanan menuju Blitar, kota yang menyimpan banyak kisah kebangsaan. Setibanya di area Museum dan Makam Bung Karno, suasana seketika berubah khidmat. Di auditorium, para siswa menyaksikan tayangan dokumenter perjuangan Sang Proklamator.
Setiap potongan video terasa hidup — memperlihatkan betapa kuatnya keyakinan Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan. Banyak siswa yang tampak terpaku; seolah sedang diajak menyelami masa ketika semangat muda menjadi bahan bakar revolusi.
Tak lama setelah itu, mereka beranjak menuju paviliun makam. Di sana, para siswa menundukkan kepala, berdoa bersama, dan mengirimkan rasa terima kasih kepada Sang Proklamator.
Dari sana, mereka belajar bahwa menjadi pemuda bukan hanya soal usia muda, tapi tentang berani bermimpi besar dan berbuat nyata untuk negeri.
Menyentuh Jejak Kejayaan di Candi Penatara

Perjalanan berlanjut ke Candi Penataran, peninggalan agung Kerajaan Majapahit yang berdiri megah di tengah hamparan hijau.
Langkah para siswa melambat ketika menyusuri batu-batu tua yang tertata rapi. Setiap relief di dinding seolah berbisik, menceritakan masa kejayaan dan kebijaksanaan leluhur.
Menariknya, para pemandu di setiap kelompok bukan orang luar, melainkan siswa sendiri dari konsentrasi Ekowisata SMK Cendika Bangsa. Dengan penuh percaya diri, mereka menjelaskan sejarah, makna simbolik, dan nilai budaya yang terkandung di dalam candi.
“Rasanya bangga bisa memandu adik kelas sendiri,” ujar salah satu tour leader muda dengan senyum lebar. “Kita bukan cuma belajar sejarah, tapi ikut melestarikannya.”
Sore hari mulai turun, namun semangat para siswa belum padam. Di tengah sisa cahaya senja, mereka masih sibuk berfoto, berbagi cerita, dan menyimpan kenangan dari setiap batu yang mereka sentuh.(april)
To Be Continued…
Petualangan belum berakhir. Masih ada tawa di Blitar Park, keheningan di makam ulama, dan pelajaran hidup yang menunggu di ujung perjalanan.
Nantikan kisah berikutnya: