Share

Hikmah Memaafkan dalam Islam: Pelajaran dari Rasa Kecewa

swaracendika.id
tausiyah oleh KH. Romadhon Khotib

Share

swaracendika.id – Siapa di antara kita yang tidak pernah merasa kecewa? Hampir setiap orang pernah merasakan sakit hati, kesal, bahkan marah kepada seseorang yang dianggap telah melukai perasaan. Rasa kecewa biasanya muncul karena harapan yang tidak terpenuhi, ucapan yang menyakitkan, atau sikap orang lain yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Perasaan seperti inilah yang sering hadir dalam kehidupan manusia. Namun di balik kekecewaan tersebut, sebenarnya terdapat pelajaran berharga tentang kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan untuk memaafkan.

Renungan tentang makna kekecewaan ini menjadi pembuka dalam tausiyah yang disampaikan oleh KH. Romadhon Khotib dalam acara buka puasa bersama keluarga besar SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Dalam kesempatan tersebut, para guru dan tenaga kependidikan diajak untuk merenungkan kembali bagaimana manusia sering memandang kekecewaan dalam kehidupannya.

Dalam tausiyahnya, KH. Romadhon Khotib menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa dikecewakan, reaksi pertama yang sering muncul adalah menyalahkan orang lain. Padahal dalam ajaran Islam, setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini berada dalam ketetapan Allah.

Baik peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, semuanya merupakan bagian dari takdir yang telah ditetapkan. Apa yang kita anggap sebagai kekecewaan bisa saja menjadi ujian dari Allah agar manusia belajar menerima ketentuan-Nya dengan hati yang lebih lapang.

Dengan memahami hal ini, manusia diharapkan tidak mudah terjebak dalam rasa marah atau dendam terhadap orang lain.

Pelajaran dari Kisah Rasulullah dan Abu Thalib

Untuk memperjelas pesan tersebut, KH. Romadhon Khotib mengajak para hadirin merenungkan sebuah kisah dari kehidupan Rasulullah ﷺ bersama pamannya, Abu Thalib.

Abu Thalib dikenal sebagai sosok yang sangat berjasa dalam melindungi Rasulullah ﷺ pada masa awal dakwah Islam. Ia selalu mendampingi dan menjaga Nabi dari berbagai ancaman kaum Quraisy.

Namun ketika Abu Thalib berada di saat-saat terakhir kehidupannya, Rasulullah ﷺ datang menjenguk dan mengajaknya mengucapkan kalimat syahadat. Meski demikian, hingga akhir hayatnya Abu Thalib tidak mengucapkan kalimat tersebut.

Peristiwa ini tentu menjadi kesedihan mendalam bagi Rasulullah ﷺ. Namun Allah kemudian menurunkan firman-Nya dalam QS. Al-Qasas ayat 56 yang menjelaskan bahwa Rasulullah tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai. Hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah dan diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Kisah ini mengajarkan bahwa bahkan seorang Nabi pun tidak dapat memaksakan kehendak terhadap hati manusia.

Renungan tentang kekecewaan juga diperdalam dengan gambaran hari pembalasan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim.

Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti, orang yang pernah dizalimi akan mengambil pahala dari orang yang menzaliminya. Jika pahala orang yang berbuat zalim telah habis sementara kesalahannya belum terbayar, maka dosa orang yang dizalimi akan dipindahkan kepadanya.

Gambaran ini menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan manusia akan mendapatkan balasan yang adil di hadapan Allah.

Keutamaan Memaafkan dalam Islam

Di tengah gambaran tentang keadilan tersebut, Rasulullah ﷺ juga menyampaikan kisah yang penuh keindahan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau pernah melihat sebuah istana yang sangat megah di surga.

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada Allah tentang siapa pemilik istana tersebut. Allah menjelaskan bahwa istana itu disediakan bagi umat Nabi Muhammad yang mampu membayar harga yang sangat mahal.

Harga yang dimaksud bukan berupa harta atau kedudukan, melainkan kemampuan untuk memaafkan kesalahan saudara-saudaranya dengan tulus.

Dengan kata lain, memaafkan merupakan salah satu amal mulia yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah.

Hikmah Ulama tentang Memaafkan

Di akhir tausiyahnya, KH. Romadhon Khotib juga menyampaikan hikmah dari para ulama, termasuk Ahmad ibn Hanbal. Dalam salah satu nasihatnya disebutkan bahwa dalam kehidupan ini orang yang pernah tersakiti dan orang yang pernah menyakiti bisa saja suatu saat saling membutuhkan dan saling menolong.

Karena itu memaafkan bukanlah tanda kelemahan. Justru memaafkan adalah bentuk kemuliaan hati yang akan diganjar oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda.

Ketika azan Maghrib berkumandang, seluruh hadirin bersama-sama memanjatkan doa berbuka puasa. Suasana khusyuk terasa saat setiap orang menikmati tegukan air dan suapan pertama setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Kebersamaan sederhana di bulan Ramadhan tersebut menjadi pengingat bahwa hidup tidak semata-mata tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih dari itu, kehidupan adalah proses belajar untuk melapangkan hati, menerima takdir Allah, serta saling memaafkan.

Dengan hati yang lapang dan sikap saling memaafkan, manusia dapat melanjutkan perjalanan hidup menuju kebaikan yang lebih besar.[Sulis]

Tag @

Share