Share

YSKKI Gelar Festival Budaya, Milenial dan Gen Z Malang Bergerak Lestarikan Tradisi

swaracendika.id
Seminar dan Festival Budaya Lokal YSKKI

Share

Swaracendika.id – Yayasan Kebangsaan Kemanusiaan Indonesia kembali menggerakkan panggung budaya. Melalui Seminar dan Festival Kebudayaan Lokal di Kepanjen, semangat gotong royong dan kearifan lokal digaungkan kepada generasi muda. Kegiatan ini digelar di wilayah Kabupaten Malang pada Sabtu (14/02/2026).

Acara tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, dan DANAINDONESIANA. Sekitar 150 peserta dari kalangan milenial dan Gen Z hadir. Suasana berlangsung dialogis, hangat, dan penuh antusiasme.

Pembukaan Sarat Nuansa Tradisi

Pada awal acara, panitia menghadirkan bina suasana bernuansa tradisi. Karena itu, peserta langsung merasakan identitas budaya lokal sejak sesi pembuka. Irama dan simbol tradisi menjadi jembatan menuju diskusi yang lebih dalam.

Selain itu, tema “Gotong Royong Melestarikan Kearifan Lokal” menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan. Tema ini dipilih agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga terlibat aktif merawatnya.

Narasumber Angkat Isu Budaya dan Toleransi

Seminar menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, Adi Khisbul Wathon sebagai pegiat Civil Society Organization Malang. Kedua, Syaifudin Ma’arif yang dikenal sebagai penyuluh anti radikalisme dan toleransi.

Keduanya membahas budaya dari sudut pandang berbeda. Namun demikian, fokusnya tetap sama, yaitu penguatan karakter kebangsaan melalui kearifan lokal.

YSKKI Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor

Direktur YSKKI, Masruri Mahali, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Sebaliknya, dibutuhkan kerja bersama antara komunitas, pemerintah, dan generasi muda.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pihak pendukung program. Dukungan tersebut dinilai menjadi energi penting bagi keberlanjutan gerakan budaya.

Selain itu, ia menyoroti kekayaan wilayah Malang yang membentang dari lereng Gunung Kawi hingga kawasan Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan Gunung Arjuno. Oleh sebab itu, potensi budaya di wilayah tersebut perlu dirawat secara berkelanjutan.

Generasi Muda dan Integrasi Budaya dengan Teknologi

Para pembicara menilai budaya tidak boleh tertinggal oleh teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat penguat pelestarian tradisi. Karena itu, generasi muda didorong menjadi aktor utama integrasi budaya dan inovasi.

Adi Khisbul Wathon menyoroti gotong royong sebagai fondasi peradaban. Selain itu, ia mengulas sastra Jawa yang kaya nilai filosofis. Menurutnya, nilai tersebut masih relevan hingga sekarang. Dengan demikian, milenial memiliki tanggung jawab moral untuk terus nguri-uri budaya.

Regenerasi Seni dan Peran Komunitas

Syaifudin Ma’arif menambahkan bahwa semangat budaya harus berjalan seiring dengan semangat kepemudaan. Ia mencontohkan regenerasi penari Topeng Malang di berbagai sanggar seni. Proses kaderisasi ini berlangsung konsisten dari waktu ke waktu.

Akibatnya, tradisi tidak berhenti sebagai arsip. Tradisi tetap hidup sebagai praktik nyata di tengah masyarakat.

Penutup: Sinergi Jadi Kunci Pelestarian

Pada sesi akhir, moderator menegaskan bahwa kearifan lokal adalah fondasi identitas sosial. Oleh karena itu, peserta diajak memahami dinamika budaya secara bijak. Perbedaan pandangan pun perlu disikapi dengan terbuka.

Sebagai penutup, seluruh pihak sepakat bahwa sinergi adalah kunci. Kolaborasi generasi muda, pegiat budaya, dan pemerintah akan membentuk Malang yang berkarakter, berbudaya, dan terus melaju. Budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali di ruang sehari hari.[Ruri]

Tag @

Share