Share

Mujahadah Kubro Jadi Napas Pendidikan di Harlah 1 Abad NU

swaracendika.id
swaracendika.id

Share

Swaracendika.id – Mujahadah Kubro bukan sekadar peristiwa spiritual. Kegiatan ini menjadi pengingat perjalanan 100 tahun Nahdlatul Ulama yang dibangun dari doa dan ketekunan. Selain itu, NU tumbuh dari keberpihakan kuat kepada umat.

Di tengah lantunan munajat, peserta diajak berhenti sejenak untuk merenung. Peran sebagai peserta didik, pendidik, dan bagian dari keluarga besar pendidikan kembali ditegaskan. Terutama di era yang penuh tantangan, refleksi ini menjadi semakin penting.

Harlah 1 Abad NU dan Tanggung Jawab Pendidikan

Harlah 1 Abad NU tidak hanya mengenang jasa para masyayikh. Namun, peringatan ini juga menuntut kelanjutan ikhtiar dalam bentuk yang relevan. Dulu NU menjaga akidah dan persatuan bangsa. Kini, tantangannya bergeser ke krisis karakter dan adab generasi.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan memegang peran strategis. Sekolah tidak cukup mengejar nilai akademik. Sebaliknya, sekolah perlu membangun karakter dan kompetensi secara seimbang.

Doa yang Diterjemahkan Menjadi Praktik Sekolah

Nilai Mujahadah Kubro menemukan maknanya dalam tindakan nyata. Doa tidak berhenti di lisan. Nilai itu harus tampak dalam sikap dan kebiasaan belajar.

Misalnya, budaya doa bersama membentuk kedisiplinan batin. Selain itu, kerja tim dalam kepanitiaan melatih tanggung jawab. Kegiatan bakti sosial juga menumbuhkan kepedulian. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mengisi kepala, tetapi juga menata hati dan keterampilan.

Implementasi di SMK Cendika Bangsa Kepanjen

Semangat tersebut diterapkan di SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Dalam rangka Harlah NU ke-100, sekolah menggelar berbagai kegiatan. Program disusun untuk memadukan nilai spiritual dan sosial.

Pertama, digelar tahlil dan istighotsah bersama. Kegiatan ini menjadi bentuk dzikir kolektif warga sekolah. Selanjutnya, diadakan ngaji bersama dan pengajian akbar. Tujuannya memperkuat fondasi keimanan peserta didik.

Tidak hanya itu, ngaji kitab kuning juga dilaksanakan. Program ini menghidupkan tradisi keilmuan salaf di lingkungan sekolah.

Kegiatan Sosial sebagai Latihan Tanggung Jawab

Selain kegiatan spiritual, aksi sosial juga diperkuat. Siswa dan guru turun langsung ke masyarakat. Mereka mengadakan bakti sosial ke sekolah sekitar. Mereka juga menyalurkan santunan bagi anak yatim dan dhuafa.

Di sisi lain, bantuan untuk korban bencana turut disalurkan. Program Pondok Ramadhan pun rutin digelar setiap tahun. Melalui kegiatan ini, pembinaan spiritual dilakukan secara lebih intensif.

Dengan begitu, kegiatan sekolah tidak berhenti sebagai seremoni. Sebaliknya, program menjadi latihan nyata pengabdian dan kepedulian.

Menyiapkan Generasi Terampil dan Berakhlak

Rangkaian kegiatan tersebut mengarah pada tujuan besar. Sekolah ingin membentuk generasi siap kerja dan tetap bernurani. Mereka didorong berpikir jernih, tetapi tetap berakar pada nilai.

Akhirnya, peringatan 1 Abad NU diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan. Momentum ini menjadi penguat kesadaran bersama. Setiap aktivitas pendidikan adalah ladang amal. Dari sanalah masa depan dibangun secara bertahap dan berkelanjutan. [Sulis/Cb1]

Tag @

Share