Swaracendika.id — Enam kata berbahasa Jawa itu terpampang sederhana dalam tulisan berjalan di atas makam Syaikh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi. Pendek, tanpa embel-embel. Namun setiap hurufnya terasa menusuk, menembus relung hati siapa pun yang membacanya.
Loman. Akas. Temen. Sabar. Berikan. Ngalah.
Bukan sekadar petuah, enam kata ini adalah distilasi kebijaksanaan seorang guru besar para wali, sang pembimbing spiritual yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat.
Di tengah zaman yang mengagungkan ambisi pribadi, kekayaan material, dan kemenangan atas sesama, kata-kata ini terasa seperti tamparan halus yang membangunkan.
Perjalanan ziarah wali SMK Cendika Bangsa Kepanjen

Hari ini, keluarga besar SMK Cendika Bangsa Kepanjen, para tenaga pendidik, kependidikan, dan senat memulai perjalanan ziarah wali yang tak biasa. Sebuah napak tilas spiritual, menelusuri jejak para penyebar Islam yang membangun peradaban bukan dengan pedang, melainkan dengan keteladanan.
Perjalanan dimulai dari makam Sunan Ampel di Surabaya, sang perintis penyebaran Islam di Jawa Timur. Kemudian rombongan menuju makam Asmoro Qondi di Tuban, guru dari para guru, tempat enam kata itu menghadang dengan tegas namun penuh kasih.
Ziarah dilanjutkan ke makam Sunan Bonang, yang mengajarkan dakwah melalui keindahan seni. Hingga akhirnya menuju Sunan Drajat di Lamongan, yang membuktikan bahwa spiritualitas sejati adalah melayani sesama.
Ketika Masa Lalu Berbicara pada Masa Kini
Rombongan berdiri lama di depan tulisan berjalan itu. Membaca. Merenungkan. Membaca lagi.
Enam kata yang begitu ringkas, namun terasa begitu berat. Seolah setiap kata membawa beban kebijaksanaan berabad-abad yang menuntut untuk dipahami, bukan sekadar dibaca.
Di tengah keheningan itu, seseorang bersuara pelan.
“Ini seperti cermin…”
Cermin untuk apa?
Untuk motto yang selama ini mereka pegang: Kompeten, Cerdas, dan Santun. Tiga pilar SMK Cendika Bangsa Kepanjen yang menjadi kompas dalam mendidik generasi muda.
Namun enam kata di atas makam Asmoro Qondi seolah berbisik:
“Tahukah kalian dari mana ketiga pilar itu harus tumbuh?”
Ini bukan sekadar kebetulan. Ini bukan sekadar kemiripan makna. Enam kata dari seorang guru abad ke-15 ternyata adalah anatomi, cetak biru, DNA dari apa yang hendak dicapai lembaga pendidikan di abad ke-21.
Kompeten, Cerdas, Santun: Fondasi yang Lebih Dalam
Kompeten bukan lahir dari bakat semata. Ia lahir dari Akas, ketekunan yang membaja.
Berapa banyak orang berbakat gagal karena tak memiliki ketabahan untuk terus mengasah kemampuan?
Asmoro Qondi mengajarkan bahwa kompetensi sejati adalah buah dari kerja keras yang konsisten. Tanpa akas, kompetensi hanyalah potensi yang mubazir.
Cerdas tanpa Temen adalah pedang bermata dua.
Temen bukan sekadar kesetiaan, melainkan kesetiaan pada kebenaran, prinsip, dan nilai-nilai yang tidak boleh digadaikan.
Sejarah mencatat, banyak orang cerdas justru merusak peradaban karena kecerdasannya digunakan untuk kepentingan sempit. Kecerdasan sejati adalah kecerdasan yang temen, yang tidak menjual integritas demi materi atau kekuasaan.
Namun yang paling mengejutkan adalah tentang Santun.

Selama ini, kesantunan dipahami sebagai sopan santun dan tata krama. Tetapi di makam Asmoro Qondi, kesantunan dibongkar menjadi empat elemen yang jauh lebih dalam:
- Loman, santun dalam berbagi. Bukan hanya materi, tetapi juga ilmu, waktu, perhatian, tanpa pamrih.
- Sabar, santun dalam menghadapi ujian. Tidak gegabah, tidak mudah marah, tidak cepat menyerah.
- Berikan, santun dalam memberi yang terbaik, meski tak selalu dihargai.
- Ngalah, puncak kesantunan. Mengalah bukan karena lemah, melainkan karena kuat.
Rela merendah bukan karena kalah, tetapi karena memahami ada yang lebih penting dari ego: keharmonisan dan kemaslahatan bersama.
Pertanyaan yang Menggantung
Seorang guru senior terdiam lama. Matanya tertuju pada tulisan berjalan di atas makam. Lalu ia berbisik, hampir tak terdengar:
“Selama ini kita sibuk membentuk siswa yang kompeten, cerdas, dan santun. Tapi apakah kita sendiri sudah hidup dalam enam kata ini?”
Pertanyaan itu menusuk.
Apakah kompetensi kita dibangun dengan akas, atau hanya rutinitas?
Apakah kecerdasan kita dijaga dengan temen, atau sudah terkompromikan oleh pragmatisme?
Apakah kesantunan kita sungguh loman, sabar, berikan, dan berani ngalah, atau hanya topeng profesionalisme di depan siswa?
Tak ada yang menjawab. Karena memang tak ada jawaban instan.
Yang ada hanya kesadaran baru yang perlahan meresap: enam kata di atas makam Asmoro Qondi bukan pelengkap motto Kompeten, Cerdas, dan Santun, melainkan fondasinya.
Matahari mulai condong ke barat ketika rombongan bersiap meninggalkan makam terakhir. Tidak ada yang berbicara banyak. Tidak perlu.
Perjalanan hari ini bukan tentang mengumpulkan cerita, tetapi tentang menemukan sesuatu yang lebih berharga: kompas moral berusia berabad-abad, namun masih menunjuk arah yang benar.
Enam kata itu akan tetap terpampang di atas makam Asmoro Qondi. Sederhana. Pendek.
Namun cukup kuat untuk mengingatkan siapa pun: bahwa mendidik bukan hanya soal mentransfer ilmu, tetapi soal menjadi teladan.
Loman. Akas. Temen. Sabar. Berikan. Ngalah.
Enam kata yang dibawa pulang, bukan di tas, tetapi di hati. [Sulis/Cb1]