Swaracendika.id – UKK Ekowisata SMK Cendika Bangsa Kepanjen kembali membuktikan kualitas calon pramuwisata masa depan. Asesmen akhir jurusan Ekowisata ini digelar pada April 2026 dan menjadi panggung pembuktian mental serta kemahiran berbahasa asing. Selain itu, kegiatan ini jauh melampaui sekadar ujian formalitas biasa.
Mematangkan Fondasi Kepemanduan
Rangkaian UKK Ekowisata dimulai pada 21 April 2026 melalui tahap internal. Miss Titis Sri Wahyuni, S.Tr. membimbing siswa dalam aspek krusial penyiapan perangkat kepemanduan dan penyusunan aktivitas ekowisata. Oleh karena itu, setiap siswa mendapatkan landasan standar operasional yang tepat sebelum terjun ke lapangan.

Miss Titis bukan pengajar biasa. Beliau adalah penyusun soal UKK Kemendikdasmen, asesor kompetensi BNSP, sekaligus praktisi pemandu wisata aktif. Dengan demikian, pengalaman nyata beliau memastikan para siswa siap menghadapi tantangan di lapangan.
Uji Nyali Full English
Suasana di Situs Petirtaan Ngawonggo, Tajinan, tampak berbeda pada Sabtu, 25 April 2026. Para siswa kelas XII Ekowisata SMK Cendika Bangsa menjalani UKK tahap eksternal langsung di lapangan terbuka. Namun, ujian ini bukan sekadar tampil di depan kamera atau penguji internal.

Bapak Mokhamad Ansori, S.S., Direktur Sunrise Holiday Tour sekaligus Asesor BNSP, mengawasi jalannya ujian dengan ketat. Para siswa harus memberikan teknik interpretasi lengkap dalam bahasa Inggris kepada audiens nyata. Bahkan, mereka harus tampil di hadapan pemandu lokal Situs Ngawonggo dan rombongan mahasiswa Polinema yang sedang berkegiatan di lokasi.
Selain itu, pengunjung umum turut menyaksikan presentasi para siswa secara langsung. Para siswa dengan berani mengupas filosofi petirtaan hingga tata krama budaya setempat di depan publik yang ramai. Hasilnya, mental baja para calon pramuwisata ini benar-benar teruji.
Kuliner Klasik di Bawah Rimbun Bambu
Setelah ujian yang menguras energi, suasana berubah menjadi hangat dan penuh kekeluargaan. Ibu Ety, koki Pawon Ngawonggo, bersama krunya menyambut rombongan dengan keramahan khas pedesaan. Dengan demikian, semua peserta merasakan kehangatan budaya lokal secara langsung.
Jamuan “Tomboan Ngawonggo” yang melegenda pun tersaji di bawah naungan pohon bambu yang rimbun. Kudapan seperti ketan bubuk gurih, pisang goreng hangat, dan wedang tomboan menjadi pembuka yang menyegarkan. Selain itu, hidangan utama berupa sego empog, tempe, pecel, serta aneka sayur ndeso melengkapi meja makan dengan cita rasa autentik.
“Suasana di sini benar-benar membawa kita kembali ke zaman Jawa kuno. Sangat bersahabat dan otentik,” ungkap salah satu peserta. Oleh karena itu, momen makan bersama ini menjadi refleksi nyata dari esensi ekowisata, perpaduan pelestarian sejarah, alam, dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Gerbang Menuju Dunia Pariwisata Nyata
Bapak Ansori memberikan catatan penting tentang kepercayaan diri dan kemampuan bahasa asing sebagai modal utama bersaing di kancah internasional. Senada dengan itu, Hesti Damayanti, M.Pd., Kepala Kompetensi Keahlian Ekowisata, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang mendukung acara ini.
“Terima kasih kepada Guru Ekowisata, Pak Ansori, serta tim Situs Ngawonggo yang luar biasa. Untuk anak-anakku, ini adalah gerbang awal. Dunia pariwisata menantikan dedikasi kalian untuk Indonesia yang lebih maju dan berkesadaran lingkungan,” tutur Bu Hesti menutup kegiatan dengan doa bersama.
Dengan demikian, UKK Ekowisata SMK Cendika Bangsa tahun ini bukan sekadar ujian nilai. Lebih dari itu, kegiatan ini membentuk karakter pemandu wisata masa depan yang siap menjaga kelestarian ekosistem dan budaya nusantara. Wonderful Indonesia. [Hesti/cb01]