Pelepasan peserta didik di sekolah menengah kejuruan menjadi momen yang paling dinantikan oleh siswa kelas XII. Oleh karena itu, SMK Cendika Bangsa memberikan persembahan spesial bagi lulusan angkatan ke-17 melalui kegiatan purnawiyata.
Purnawiyata merupakan seremonial pelepasan resmi bagi siswa yang telah menyelesaikan masa belajar di jenjang pendidikan tertentu. Kegiatan ini menjadi simbol akhir perjuangan sekaligus awal langkah baru bagi para lulusan.
Tepat pada Sabtu, 16 Mei 2026, kegiatan purnawiyata dilaksanakan di Ballroom Hotel Grand Kanjuruhan Kepanjen, Malang. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh siswa kelas XII beserta wali murid. Selain itu, para guru dan tamu undangan juga turut hadir. Beberapa di antaranya berasal dari Yayasan Perguruan Tinggi Islam Raden Rahmat Malang, perangkat desa, serta tokoh Muslimat NU dari Desa Mojosari, Ngadilangkung, Dilem, dan Jatirejoyoso.
Pada tahun ini, sebanyak 317 siswa dari 10 jurusan resmi dilepas dalam momen purnawiyata SMK Cendika Bangsa. Suasana haru dan bangga terasa ketika para siswa menerima penghargaan atas perjuangan mereka selama menempuh pendidikan di bangku SMK.
Mengusung Tema Tradisional Java

Tahun ini, purnawiyata mengangkat tema “Anggun dalam tradisi, unggul dalam prestasi”. Dengan konsep tradisional Java, acara berlangsung harmonis dan penuh makna.
Tidak hanya itu, acara juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari siswa SMK Cendika Bangsa sendiri. Talenta yang tampil meliputi tim paduan suara, tari, paskibra, MC, hingga musik.
Selain penampilan siswa internal, SMK Cendika Bangsa juga menggandeng penyanyi dari salah satu SD di Kepanjen. Langkah ini menjadi bentuk dukungan sekolah dalam menggali potensi dan bakat generasi muda sejak dini. Dengan demikian, kegiatan purnawiyata tidak hanya menjadi acara perpisahan. Namun, acara ini juga menjadi wadah apresiasi seni, budaya, dan prestasi siswa.

“Saya merasa lega karena acara ini akhirnya berjalan dengan lancar. Bintang tamu kali ini juga memberikan sentuhan yang berbeda. Adik Vero, yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, mampu membawakan lagu Jawa dengan anggun dan merdu,” ujar Ibu Aucha Maf’ula selaku ketua pelaksana purnawiyata tahun ini.
Beliau juga menyampaikan bahwa lagu berbahasa Jawa tidak selalu identik dengan gerakan yang dipandang negatif. Sebaliknya, lagu Jawa merupakan bagian dari keanggunan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. [Aucha/cb01]





