Share

PAC IPNU IPPNU Wagir Resmi Dilantik, Siap Lanjutkan Khidmah NU

swaracendika.id
swaracendika.id

Share


swaracendika.id – Malang, Udara Minggu pagi (9/11/2025) di Desa Jedong terasa sejuk dan teduh, seolah ikut menyambut semangat para kader muda Nahdlatul Ulama yang memadati Aula Yayasan Pendidikan Nurul Iman. Hari itu menjadi momen bersejarah bagi para pelajar NU di Kecamatan Wagir: pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU masa khidmat 2025–2027.

Pelantikan berlangsung khidmat namun penuh semangat santri. Hadir dalam acara tersebut Pengurus Cabang IPNU/IPPNU, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wagir, Ustaz Sugiono, S.Ag, Ketua PAC GP Ansor Wagir Melani Albar, M.Pd.I, serta para perwakilan dari seluruh badan otonom (banom) NU se-Kecamatan Wagir. Kehadiran mereka menjadi simbol kuatnya tali silaturahmi antargenerasi dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Adapun yang resmi dilantik sebagai nahkoda baru IPNU-IPPNU Wagir adalah Muhammad Rafael Alfarizal sebagai Ketua PAC IPNU, dan Azzahra Enggar Sabrina sebagai Ketua PAC IPPNU. Keduanya menerima amanah dengan penuh haru dan tekad untuk meneruskan perjuangan kaderisasi pelajar NU di tingkat kecamatan.

Dalam sambutannya, Ustaz Sugiono menegaskan pentingnya menjaga semangat khidmah dan kekompakan antarbanom.“IPNU-IPPNU ini bukan sekadar organisasi pelajar. Ini adalah kawah candradimuka kader masa depan NU. Dari sinilah calon-calon pemimpin bangsa ditempa, diajari adab sebelum ilmu,” tutur beliau disambut tepuk tangan hangat hadirin.

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Wagir Melani Albar, M.Pd.I berpesan agar sinergi antarbanom terus diperkuat.“IPNU dan IPPNU harus jadi motor penggerak kegiatan keislaman dan kebangsaan di tingkat pelajar. Jangan minder jadi santri, sebab dari pesantrenlah lahir ulama dan pemimpin sejati,” ujarnya dengan nada penuh motivasi.

Wajah-wajah muda itu tampak bersinar—sebuah potret harapan bahwa estafet perjuangan Nahdlatul Ulama di Wagir terus berlanjut di tangan generasi penerus. Mereka bukan sekadar pelajar. Mereka adalah penjaga warisan ulama, penerus semangat kiai dan nyai, dan bukti bahwa di tengah arus zaman yang kian deras, santri tetap punya cara untuk berdiri tegak—dengan sarung, jilbab, dan bendera hijau yang berkibar penuh makna. (cb1/hudan)

Tag @

Share