Share

Kemah Integrasi Pemuda Jatim 2025, Semangat yang Menyala

swaracendika.id
swaracendika.id

Share

swaracendika.id – Udara Nongkojajar sore itu terasa sejuk, namun di tengah kesejukan alam pegunungan, api semangat para pemuda Jawa Timur justru menyala. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur menggelar Kemah Integrasi Pemuda Jawa Timur 2025, sebuah momentum yang tak sekadar ajang pertemuan, melainkan perayaan atas keberagaman dan semangat persatuan.

Kegiatan yang berlangsung tiga hari dua malam, sejak 28 Oktober 2025 itu, mempertemukan para perwakilan OKP (Organisasi Kepemudaan) dari berbagai daerah. Mereka datang membawa semangat, ide, dan cita-cita besar untuk membangun masa depan Jawa Timur yang lebih inklusif dan berdaya. “Mari bersama-sama kita bergerak,” ujar Wahba Sirajuddin, S.IP, perwakilan pemuda Kabupaten Malang yang turut mendampingi Kepala Dispora Jatim, Dr. M. Hadi Wawan Guntoro, S.STP, M.Si, CIPA, dalam sambutan penutupan kegiatan.


Menyeduh Semangat Nusantara di Malam Pertama

Di hari pertama, suasana perkemahan dipenuhi canda, diskusi, dan semangat kebersamaan. Workshop dan diskusi lintas organisasi berjalan dinamis. Malamnya, para peserta berkumpul dalam acara “Seduh Wedang Nusantara” — simbol sederhana dari persaudaraan lintas daerah, di mana segelas wedang menjadi pengikat cerita, gagasan, dan harapan.

Asap tipis dari tungku kayu bercampur aroma rempah memenuhi udara. Di tengah tawa dan obrolan hangat, muncul kesadaran bersama: bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang menyatukan.


Sumpah Pemuda: Dari Kata Menjadi Nyata

Hari kedua menjadi puncak acara. Dalam upacara Sumpah Pemuda 2025, kehadiran Gubernur Jawa Timur memberi makna tersendiri. Sang Gubernur tak sekadar hadir, tetapi turut menyaksikan pameran karya dan program dari berbagai OKP, tanda bahwa peran pemuda bukan hanya berbicara, melainkan berkarya.

Di sela upacara, dilaksanakan pula pasar murah di Nongkojajar yang mendapat sambutan hangat warga sekitar. Di situ terlihat bagaimana semangat pemuda hadir tak hanya untuk berslogan, tapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Sumpah Pemuda bukan hanya peringatan sejarah, tetapi momentum untuk kembali mengikat janji: menjaga tanah air, memperkuat solidaritas, dan menyalakan api perubahan,” ujar salah satu peserta kemah dengan mata berbinar.


Api Unggun dan Cahaya Kebersamaan

Malamnya, langit Nongkojajar diterangi cahaya api unggun yang menjulang. Nyala itu seakan menjadi simbol semangat yang tak pernah padam, bahkan di tengah tantangan zaman. Lagu-lagu perjuangan berkumandang, bersahutan dengan tawa dan cerita di antara tenda-tenda.

Mereka bukan sekadar berkemah, tapi menulis bab kecil dari perjalanan panjang bangsa — bahwa pemuda Indonesia masih ada, masih peduli, dan masih berjuang.


Menutup dengan Aksi Nyata

Hari terakhir diisi dengan bakti sosial, wujud nyata dari nilai yang selama ini hanya dibicarakan. Para peserta membersihkan lingkungan sekitar, berbagi bantuan, dan menebar inspirasi.

Di penghujung acara, Wahba Sirajuddin kembali mengingatkan dalam nada yang tegas tapi hangat, “Semangat pemuda bukan tentang usia muda, tapi tentang keberanian untuk bergerak dan peduli. Sumpah Pemuda adalah warisan, tapi juga panggilan.”


Kemah Integrasi Pemuda Jawa Timur 2025 menegaskan bahwa cita-cita pergerakan tak akan pernah usang. Ia hidup dalam langkah-langkah kecil yang diambil bersama — di bawah langit yang sama, dengan keyakinan bahwa bangsa ini akan terus tumbuh, selama pemudanya tak berhenti bergerak.(raju)

Tag @

Share