Swaracendika.id – Pada 23 Mei 2026, Festival Literasi Nasional 2026 resmi terselenggara di ballroom Paragon Hotel Solo. Acara ini menghadirkan berbagai pembicara nasional yang membahas pendidikan, literasi, dan masa depan generasi muda Indonesia. Selain itu, kegiatan ini dikemas secara interaktif sehingga peserta dapat terlibat langsung dalam setiap sesi. Dengan demikian, Festival Literasi Nasional 2026 menjadi ruang belajar bersama yang hangat dan penuh inspirasi.
Acara ini tidak hanya mempertemukan pegiat literasi dari berbagai daerah. Namun, panitia juga mengisi rangkaian acara dengan seminar, diskusi, talkshow, dan pengumuman penghargaan tingkat nasional di bidang literasi.
Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Kemiskinan
Salah satu kutipan paling membekas datang dari Helmy Yahya. Ia menegaskan bahwa pendidikan berperan sebagai penyelamat masa depan seseorang.
“Orang miskin akan tetap miskin, yang menyelamatkan hanya pendidikan.”
Oleh karena itu, pendidikan bukan sekadar kewajiban formal, melainkan investasi jangka panjang yang mengubah kehidupan. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kemampuan berpikir kritis dan literasi menjadi kebutuhan utama. Dengan demikian, generasi muda perlu memprioritaskan pendidikan sejak dini.
Investasi Terbaik Bukan Hanya Soal Uang
Selain Helmy Yahya, hadir pula Giring Ganesha yang saat ini menjabat sebagai wakil menteri. Ia menyampaikan pesan menarik tentang investasi pengetahuan. Menurutnya, banyak orang mulai sadar pentingnya berinvestasi dalam bentuk emas maupun aset lainnya. Namun, investasi ilmu melalui buku juga tidak kalah penting.
“Tidak ada salahnya mementingkan investasi dalam bentuk buku.”
Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Selain itu, buku dianggap sebagai jendela pengetahuan yang membuka wawasan, meningkatkan kreativitas, dan memperluas cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Festival Literasi Nasional 2026: Literasi Dimulai dari Rumah
Pembicara lain yang turut memberikan inspirasi adalah Gol A Gong. Ia menyoroti kondisi literasi Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Bahkan, ia menyebut bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam minat membaca. Di sisi lain, harapan tetap ada melalui kehadiran ribuan pegiat literasi di berbagai daerah.
Gol A Gong juga menyampaikan enam kunci penting dalam membangun gerakan literasi, yaitu komitmen, kapasitas, kompetensi, konsistensi, konektivitas, dan kontinuitas. Oleh karena itu, literasi tidak bisa dibangun secara instan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa literasi harus dimulai dari rumah, lalu berkembang di lingkungan masyarakat dan sekolah.
“Menjadi berguna jauh lebih penting daripada menjadi orang penting.”
Pernyataan penutup tersebut menjadi salah satu momen paling menginspirasi dalam Festival Literasi Nasional 2026. Pesan ini mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengejar popularitas, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Talkshow Astrid Widayani: Semua Orang Adalah Murid
Dalam sesi talkshow, Astrid Widayani selaku Wakil Wali Kota Surakarta menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna.
“Siapapun kita, kita adalah murid. Dimanapun dan kapanpun.”
Kutipan tersebut mengingatkan bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Selain itu, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup, tanpa memandang usia, jabatan, atau latar belakang. Dengan demikian, semangat belajar menjadi kunci utama kemajuan.
Ia juga menyampaikan refleksi menarik tentang perjalanan hidup:
“Setiap bagian kecil di hidup bisa menjadi puzzle yang membawa arah yang lebih baik.”
Oleh karena itu, setiap pengalaman, sekecil apa pun, dapat membentuk masa depan seseorang menjadi lebih baik.
Festival Literasi Nasional Jadi Ruang Tumbuh Generasi Muda
Festival Literasi Nasional 2026 membuktikan bahwa literasi dapat dikemas secara menarik, hangat, dan dekat dengan generasi muda. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga motivasi untuk terus berkembang. Selain itu, acara ini menegaskan bahwa masa depan bangsa dibangun melalui budaya membaca, berpikir kritis, dan pendidikan yang kuat.
Dengan semakin banyaknya komunitas literasi di Indonesia, diharapkan budaya membaca terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.[Iqfi/cb01]