Share

Halal Bihalal YPTI Raden Rahmat: Merajut Ukhuwah di Hari Fitri

Halal bi halal
Halal bi halal

Share

Swaracendika.id – Gedung RPS SMK Cendika Bangsa di Kepanjen tak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma ruang temu yang hangat, tempat rindu disambung, salah diluruhkan, dan hati dipertautkan kembali.

Keluarga besar Yayasan Perguruan Tinggi Islam (YPTI) Raden Rahmat menggelar Halal Bihalal dalam rangka Idul Fitri 1447 H, mengusung tema “Simfoni Ukhuwah dalam Harmoni Lembaga.” Sebuah tema yang bukan hanya indah diucapkan, tetapi terasa nyata di setiap jabat tangan yang terulur.

Di bawah naungan YPTI, dua lembaga, SMK Cendika Bangsa dan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA), hadir bukan sebagai dua entitas yang berbeda, melainkan sebagai satu keluarga yang sedang belajar kembali untuk saling memahami.

Merajut Ulang Kehangatan

Dalam suasana yang penuh kehangatan, Ketua Panitia sekaligus Kepala SMK Cendika Bangsa, Abdulloh Muthi, S.E., membuka ruang kejujuran. Ia menyampaikan permohonan maaf, bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai ajakan untuk memulai kembali dengan hati yang lebih lapang.

“Mungkin jika pernah ada salah paham di antara kita. Hari ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki dan melangkah bersama,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi seperti mengetuk pelan ruang batin yang sering kali kita abaikan: bahwa hubungan, sekuat apa pun, tetap butuh dirawat.

Ketika Yayasan Menjadi Rumah

Ketua Yayasan, KH. Romadhon Chatib, membawa hadirin pada sebuah perumpamaan yang begitu dekat: keluarga.

Yayasan, katanya, ibarat orang tua. Sementara SMK Cendika Bangsa dan UNIRA adalah dua anak yang tumbuh dengan caranya masing-masing.

“Kalau ada kekurangan, seharusnya ditutupi, bukan disebarkan,” pesannya.

Di titik itu, Halal Bihalal terasa bukan sekadar acara tahunan, melainkan seperti pulang. Pulang ke tempat di mana kekurangan tidak menjadi bahan perpecahan, tetapi alasan untuk saling menguatkan.

Shalawat, Anak-Anak, dan Harapan yang Mengalun

Suasana kemudian mencair dalam lantunan shalawat dari Garasi Budaya. Yang membuatnya semakin istimewa, suara-suara itu datang dari anak-anak, siswa sekolah dasar di sekitar SMK Cendika Bangsa.

Ada sesuatu yang berbeda ketika anak-anak menyanyikan lagu Gundul-Gundul Pacul. Lagu sederhana itu berubah menjadi pengingat yang dalam: tentang pemimpin yang tidak boleh sombong, tentang amanah yang tidak boleh jatuh.

Di balik suara polos mereka, terselip harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Menyentuh Akar Silaturahmi yang Sebenarnya

Bagian paling hening sekaligus paling menggugah datang saat mauidhotul hasanah oleh KH. Imam Ma’ruf.

Ia tidak hanya berbicara, tetapi mengajak hadirin bercermin.

“Kalau silaturahmi membuat kita capek, pengeluaran bertambah, bahkan utang meningkat, mungkin ada yang perlu kita evaluasi,” katanya.

Seketika, suasana berubah. Bukan lagi tentang acara, tetapi tentang makna.

Ia mengingatkan bahwa silaturahmi bukan sekadar saling mengunjungi. Bukan pula sekadar membalas kebaikan.

“Silaturahmi yang sejati adalah ketika kita tetap menyambung, meskipun orang lain memutus,” tegasnya.

Di situlah letak ujian sebenarnya. Bukan pada mereka yang baik kepada kita, tetapi pada bagaimana kita tetap baik kepada yang mungkin pernah melukai.

Ia juga mengingatkan bahwa hati yang masih menyimpan dendam adalah penghalang turunnya rahmat.

Pesannya sederhana, tetapi dalam: jangan menjadi orang yang hanya ikut-ikutan. Jika orang lain berbuat baik, kita ikut baik. Jika mereka berbuat buruk, jangan ikut buruk.

Sebuah nasihat yang terasa seperti menyalakan lampu kecil di dalam hati.

Jabat Tangan Tanpa Sekat

Di penghujung acara, semua berdiri. Satu per satu tangan saling bersalaman. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak status.

Yang ada hanya manusia dengan manusia.

Di momen itu, mungkin tidak semua masalah selesai. Tetapi setidaknya, langkah pertama sudah diambil: membuka hati.

Dan sering kali, itu sudah lebih dari cukup. [Niswa]

Tag @

Share