Share

Green Art Community Angkat Sejarah Kepanjen Lewat Seni Rupa

swaracendika.id
swaracendika.id

Share

Swaracendika.id — Event budaya “Kepandjen Djaman Mbiyen” tidak hanya menjadi ruang temu pelaku UMKM dan kuliner tempo dulu, tetapi juga menghadirkan denyut seni yang menghidupkan sejarah. Di antara hiruk-pikuk pengunjung dan aroma jajanan tradisional, sebuah stand seni rupa tampil mencuri perhatian dengan narasi visual yang kuat.

Seni Rupa Lokal Hadir di Event Kepandjen Djaman Mbiyen

Stand seni rupa tersebut menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung, termasuk Tim Literasi SMK Cendika Bangsa. Deretan lukisan yang dipamerkan tidak sekadar indah dipandang, tetapi membawa pesan sejarah dan identitas lokal Kepanjen yang dikemas melalui warna dan simbol.

Pada Sabtu, 13 Desember 2025, tim literasi berkesempatan berbincang dengan Bapak Juni (55), seorang perupa asal Kepanjen yang hadir sebagai perwakilan komunitas seni rupa dalam pameran tersebut.

Green Art Community, Wadah Seniman Malang Raya Sejak 2017

Bapak Juni menjelaskan bahwa kehadirannya di event ini mewakili Green Art Community, sebuah komunitas seni rupa yang mewadahi para seniman di wilayah Malang Raya dan telah berdiri sejak 2017.

“Komunitas kami bergerak di bidang kesenian,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa workshop sekaligus sekretariat komunitas berada di Jalan Teratai RT 06 RW 01, Cepokomulyo, yang menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, dan berkarya bagi para seniman.

Dalam event ini, Green Art Community tergabung dalam rombongan Kecamatan Kepanjen, bersama pelaku UMKM, pengrajin, dan pengusaha mikro. Kolaborasi tersebut menghadirkan pameran yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sarat muatan budaya dan sejarah.

Melukis Asal-usul Kepanjen Lewat Simbol Kerajaan

Mengusung tema “Kepandjen Djaman Mbiyen”, para seniman Green Art Community mencoba mengangkat asal-usul Kepanjen melalui medium lukisan. Salah satu karya bahkan telah terjual dengan harga Rp3 juta, berukuran 1 meter × 90 sentimeter.

“Lukisan itu menggambarkan asal-usul Kepanjen yang berasal dari kata ‘Kepanjian’ atau ‘Panjian’, yang merujuk pada simbol-simbol kerajaan,” jelas Bapak Juni.

Melalui visualisasi tersebut, sejarah lokal tidak hanya diceritakan ulang, tetapi dihadirkan kembali dalam bentuk yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

Visual Prajurit dan Busana Adat sebagai Representasi Sejarah

Untuk memperkuat nuansa masa lampau, para seniman menggambarkan figur prajurit kerajaan dengan otot yang kekar, gestur tegas, serta penggunaan busana adat seperti kemben tanpa atasan. Detail visual ini dipilih agar masyarakat memiliki bayangan konkret tentang kehidupan dan simbol sejarah pada masa itu.

Pendekatan ini menjadi jembatan antara generasi sekarang dengan sejarah, menjadikan seni sebagai media edukasi yang hidup dan mudah dipahami.

Ketika Seni Tradisional Berdialog dengan Teknologi AI

Menariknya, di tengah pembahasan tentang sejarah dan tradisi, Bapak Juni juga menyinggung perkembangan seni di era modern. Ia menyoroti maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses kreatif seni rupa.

Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian ide dan mempermudah proses visualisasi awal.

“AI hanya sebagai jembatan. Tapi yang tidak bisa digantikan adalah karakter dan skill dari masing-masing pelukis,” tegasnya.

Baginya, teknologi boleh berkembang, tetapi esensi seni tetap bertumpu pada kejujuran, pengalaman, dan sentuhan personal sang seniman.

Lukisan Abstrak sebagai Ekspresi Kejujuran Seniman

Di antara karya bertema sejarah, terdapat pula sebuah lukisan abstrak ekspresif yang dipamerkan. Lukisan ini tidak menampilkan ilustrasi realistis, melainkan goresan warna yang lahir spontan dari ide yang langsung dituangkan ke atas kanvas.

Bapak Juni menyebut karya tersebut sebagai wujud ekspresi murni, di mana seniman membiarkan perasaan dan imajinasi mengalir tanpa batas bentuk.

“Tidak Ada Seni yang Salah”: Filosofi Berkarya ala Bapak Juni

Menutup perbincangan, Bapak Juni membagikan pandangan filosofisnya tentang dunia seni. Menurutnya, seni lahir dari kejujuran, sehingga tidak ada istilah salah atau jelek dalam sebuah karya.

“Tidak ada lukisan atau seni yang salah apalagi jelek,” ujarnya.

Kesalahan teknis, bagi seorang seniman, justru dapat diolah menjadi kelebihan. Yang terpenting adalah kepercayaan diri dan kemampuan mengemas sentuhan artistik hingga mampu menyentuh sisi emosional penikmatnya. Di situlah seni menemukan legitimasi dan maknanya. (Nila)

Tag @

Share