Kepanjen, 24 Oktober 2025 – Suasana ceria dan penuh semangat terasa di ruang kelas SMK Cendika Bangsa Kepanjen pada Jumat pekan lalu. Dua kelas, yakni XI Desain Komunikasi Visual (DKV) dan XI Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TKJ), mendapatkan pengalaman berbeda: belajar Bahasa Inggris langsung bersama seorang native speaker dari Pakistan, Fara Saeed.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris siswa melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Berinteraksi langsung dengan penutur asli membantu siswa lebih percaya diri, terbiasa berbicara, dan mengenal budaya baru.
Fara Saeed, Sosok Inspiratif dari Pakistan
Melalui presentasi visual yang menarik, Fara mengajak siswa menjelajahi keindahan budaya Pakistan. Ia memperkenalkan pakaian tradisional berwarna cerah, makanan khas yang menggugah selera, serta cara masyarakat Pakistan merayakan hari besar keagamaan.
Fara Saeed merupakan mahasiswa program doktoral (S3) di Universitas Negeri Malang dengan fokus studi Teaching English as a Foreign Language (TEFL). Meski berasal dari Lahore, Pakistan, Fara fasih berkomunikasi dan mudah mencairkan suasana kelas.
Didampingi guru Bahasa Inggris, Bapak Hubaibi Amri untuk kelas XI DKV dan Ibu Mila Kholifa untuk kelas XI TKJ, Fara membuka pelajaran dengan sapaan hangat dan percakapan ringan seputar keseharian siswa. Awalnya beberapa siswa tampak malu, namun suasana cepat berubah menjadi akrab dan interaktif.
Jelajah Budaya Pakistan di Ruang Kelas


“Pakistan punya banyak kesamaan dengan Indonesia, terutama dalam hal budaya dan keramahan warganya,” ujar Fara sambil menunjukkan foto-foto dari kampung halamannya di Lahore.
Sesi tanya jawab menjadi bagian paling seru. Siswa kelas XI TKJ tampak lebih berani bertanya, mulai dari kehidupan sehari-hari di Pakistan, lama tinggal di Indonesia, hingga alasan Fara memilih studi di Malang.
Bakso, Pemersatu Dua Budaya
Tawa pecah ketika seorang siswa bertanya, “What’s your favorite Indonesian food?” Dengan senyum lebar, Fara menjawab, “Bakso!” sontak disambut tepuk tangan riuh seluruh kelas.
Momen sederhana ini menunjukkan bahwa perbedaan budaya bisa dijembatani lewat hal-hal kecil yang akrab di kehidupan sehari-hari. “Ternyata belajar bahasa juga tentang menemukan kesamaan,” ujar Ibu Mila dengan bangga.
Bahkan, salah satu siswa dengan berani melontarkan pertanyaan iseng, “Are you single?” yang dijawab tawa oleh Fara. Ia menanggapinya santai dan mengundang siswa untuk datang berkunjung ke tempatnya, menciptakan suasana belajar yang penuh keakraban.
Bahasa Inggris Jadi Jembatan Dunia
Melalui kegiatan ini, SMK Cendika Bangsa Kepanjen berharap siswa tidak hanya mempelajari Bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib, tetapi sebagai keterampilan hidup yang membuka peluang masa depan.
“Berinteraksi dengan native speaker seperti ini memberikan pengalaman nyata. Anak-anak jadi lebih percaya diri dan menyadari bahwa bahasa adalah jembatan menuju dunia,” ujar Bapak Hubaibi Amri, guru Bahasa Inggris SMK Cendika Bangsa.
Kegiatan belajar interaktif ini membuktikan bahwa Bahasa Inggris bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Dari Kepanjen, semangat global itu tumbuh — menjadikan siswa tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga terbuka terhadap dunia yang lebih luas.(niswa)