Swaracendika.id – Mikrofon sederhana di tangan, kamera siap memotret, dan name tag kecil bertuliskan Reporter Junior. Begitulah gambaran para siswa SMK Cendika Bangsa Kepanjen ketika menjalankan tugas mereka sebagai jurnalis muda.
Program Jurnalis Junior Sekolah menjadi salah satu langkah nyata sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi sekaligus melatih keberanian siswa. Melalui program ini, para siswa tidak hanya belajar menulis berita di kelas, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk melakukan peliputan.
Program ini mulai aktif sejak Desember 2025 dan melibatkan siswa dari kelas X, XI, hingga XII yang tergabung dalam tim literasi sekolah. Mereka didampingi oleh lima guru tim literasi yang membimbing proses peliputan hingga artikel siap dipublikasikan.
Belajar Menjadi Reporter di Dunia Nyata
Sebelum turun ke lapangan, para siswa terlebih dahulu merencanakan liputan bersama tim. Mereka menentukan topik berita, menyusun daftar pertanyaan, serta membagi peran dalam kelompok kecil yang terdiri dari dua orang.
Satu siswa bertugas sebagai pewawancara, sementara rekannya menjadi fotografer yang mengabadikan momen penting selama peliputan.
Dengan name tag Reporter Junior SMK Cendika Bangsa yang mereka kenakan, para siswa mencoba menjalankan peran layaknya wartawan sungguhan. Guru pendamping turut mengawasi dan memberi arahan agar proses peliputan berjalan lancar.
Hasil liputan mereka kemudian diolah menjadi artikel berita yang dipublikasikan melalui media online sekolah, Swaracendika.id.
Dari Lingkungan Sekolah Hingga Event Masyarakat
Pengalaman yang diperoleh para siswa cukup beragam. Mereka tidak hanya meliput kegiatan di lingkungan sekolah, tetapi juga berbagai kegiatan di luar sekolah.
Beberapa di antaranya melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah SMK Cendika Bangsa, tim kesiswaan, hingga guru Bimbingan Konseling. Bahkan, mereka juga pernah meliput kegiatan masyarakat seperti event Kepanjen Djaman Mbiyen di Stadion Kanjuruhan.

Bagi sebagian siswa, pengalaman tersebut menjadi momen pertama berinteraksi langsung dengan narasumber di luar lingkungan sekolah.
Mengalahkan Rasa Takut
Di balik semangat peliputan, ternyata ada cerita menarik dari para jurnalis muda ini. Pada awalnya, beberapa siswa mengaku merasa ragu bahkan takut untuk melakukan wawancara.
Berbicara dengan orang yang belum dikenal, mengajukan pertanyaan, hingga membawa kamera di tengah keramaian menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Namun perlahan, dengan bimbingan dan motivasi dari guru pendamping, rasa takut itu mulai berubah menjadi keberanian.
Tantangan lain juga sempat mereka alami, seperti ketika narasumber menolak untuk diwawancarai. Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi para siswa untuk tetap mencoba dan tidak mudah menyerah.
Melatih Keberanian dan Literasi
Koordinator Tim Literasi SMK Cendika Bangsa, Niswatun Mahfiroh, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan berita, tetapi juga melatih karakter siswa.
“Reporter junior ini menjadi media untuk melatih siswa agar lebih berani sekaligus meningkatkan kemampuan literasi mereka, terutama dalam menulis dan berkomunikasi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu menjadi pengamat yang lebih peka terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya.
Lebih dari sekadar kegiatan ekstrakurikuler, Jurnalis Junior menjadi ruang belajar yang memberi pengalaman nyata kepada siswa tentang dunia jurnalistik.
Dari rasa gugup saat pertama kali memegang alat rekam, hingga keberanian mengajukan pertanyaan kepada narasumber, perjalanan para reporter muda ini menjadi bagian dari proses belajar yang tidak ternilai.
Dan dari langkah kecil itulah, lahir cerita-cerita baru yang ditulis oleh tangan para jurnalis muda SMK Cendika Bangsa. [Niswa/cb1]