Siapa yang tidak pernah merasa kecewa? Hampir semua orang pernah mengalaminya. Rasa ini muncul saat harapan tidak terpenuhi. Bisa juga karena ucapan yang menyakitkan atau sikap orang lain yang tidak sesuai harapan. Perasaan kesal bahkan marah sering ikut muncul dalam situasi tersebut.
Renungan tentang kekecewaan menjadi pembuka tausiyah yang disampaikan oleh KH. Romadhon Khotib. Tausiyah ini berlangsung dalam acara buka puasa bersama keluarga besar SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Para guru dan tenaga kependidikan diajak untuk memahami kembali makna kekecewaan dalam kehidupan.
Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa manusia sering langsung menyalahkan orang lain saat merasa kecewa. Padahal, dalam ajaran iman, semua peristiwa terjadi atas ketetapan Allah. Baik peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyakitkan memiliki hikmah. Kekecewaan bisa menjadi ujian agar manusia belajar menerima takdir dengan lapang.
Pelajaran dari Kisah Rasulullah ﷺ dan Abu Thalib
Untuk memperjelas hal tersebut, beliau mengangkat kisah Rasulullah ﷺ bersama pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib dikenal sebagai pelindung Rasulullah ﷺ pada masa awal dakwah. Ia memiliki jasa besar dalam menjaga dan mendukung perjuangan beliau.
Namun, saat Abu Thalib menjelang wafat, Rasulullah ﷺ mengajaknya mengucapkan syahadat. Sayangnya, hingga akhir hayatnya, Abu Thalib tidak mengucapkannya. Peristiwa ini tentu menjadi kesedihan mendalam bagi Rasulullah ﷺ.
Allah kemudian menurunkan firman-Nya dalam QS. Al Qasas ayat 56. Ayat ini menjelaskan bahwa hidayah bukan berada di tangan manusia. Bahkan, seorang Nabi pun tidak dapat memberikannya kepada orang yang dicintainya. Hidayah sepenuhnya adalah kehendak Allah.
Dari kisah tersebut, dapat dipahami bahwa manusia tidak bisa memaksa hati orang lain. Oleh karena itu, tidak perlu terlalu larut dalam rasa kecewa. Setiap orang memiliki jalan dan takdirnya masing-masing.
Balasan atas Kezaliman dan Pentingnya Memaafkan
Penjelasan ini diperkuat dengan hadis Rasulullah ﷺ dalam Sahih Muslim. Hadis tersebut menggambarkan keadaan pada hari kiamat. Orang yang pernah dizalimi dapat mengambil pahala dari orang yang menzaliminya. Jika pahala itu habis, dosa orang yang dizalimi akan dipindahkan kepada pelaku kezaliman.
Meski begitu, Rasulullah ﷺ juga menggambarkan balasan indah bagi orang yang mampu memaafkan. Beliau pernah melihat sebuah istana megah di surga. Istana itu disiapkan bagi orang yang mampu membayar “harga” yang sangat tinggi. Harga tersebut bukan harta, melainkan kemampuan memaafkan dengan tulus.
Di akhir tausiyah, KH. Romadhon Khotib menyampaikan hikmah dari para ulama, termasuk Ahmad ibn Hanbal. Ia menjelaskan bahwa orang yang pernah tersakiti dan yang pernah menyakiti bisa saling menolong di masa depan. Karena itu, memaafkan bukan tanda kelemahan. Justru, memaafkan adalah bentuk kemuliaan hati yang akan dibalas pahala oleh Allah.
Saat azan Maghrib berkumandang, doa berbuka dipanjatkan bersama. Suasana khusyuk terasa saat semua menikmati hidangan pertama setelah menahan lapar dan dahaga.
Kebersamaan di bulan Ramadhan ini menjadi pengingat penting. Hidup bukan sekadar tentang benar atau salah. Lebih dari itu, hidup adalah tentang belajar menerima takdir, melapangkan hati, dan saling memaafkan. [sulistyowati/cb1]