swaracendika.id – Pelajaran Matematika kelas XI Teknik Kendaraan Ringan A (TKR) SMK Cendika Bangsa pada Jumat (7/11/2025) berlangsung tak seperti biasanya. Para siswa tidak duduk menyalin rumus atau memeriksa komponen otomotif. Mereka justru berlarian di lapangan parkir dan pematang sawah sambil menggenggam benang layang-layang. Hari itu, mereka belajar Geometri dengan cara kreatif: menerbangkan layang-layang.
Matematika di Ruang Terbuka
Pembelajaran unik ini dirancang oleh Niswatun Mahfiroh, atau Bu Niswa, guru Matematika kelas XI TKR A. Ia menerapkan pendekatan deep learning yang menekankan keterlibatan aktif siswa serta pengalaman belajar yang bermakna. “Siswa harus menjadi pembelajar aktif. Pembelajaran itu harus berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” ujarnya.
Deep Learning dalam Praktik
Menggunakan model Project-Based Learning (PjBL), Bu Niswa menargetkan tiga kompetensi utama: kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Proses belajar dimulai di bengkel otomotif. Pada fase Memahami, siswa diminta menyebutkan benda berbentuk lingkaran di sekitar mereka—mulai roda, gear, hingga velg. Mereka kemudian mengukur dan mengidentifikasi unsur-unsur lingkaran pada komponen tersebut.


Dari Bengkel ke Sawah
Memasuki fase Aplikasi, siswa merancang proyek Penerapan Lingkaran pada Permainan Tradisional Layang-layang, yang sekaligus selaras dengan mata pelajaran PJOK. Secara berkelompok, mereka mendesain dan membuat layang-layang aneka bentuk, sambil mengaitkannya dengan konsep lingkaran seperti tembereng, juring, dan busur.
Lokasi sekolah yang berada di tepi persawahan menjadi ruang praktik ideal. “Sekolah kami ini mewah—mepet sawah,” seloroh Bu Niswa. Para siswa berbagi peran saat uji coba: menarik tali, membawa layangan ke tengah sawah, hingga memberi aba-aba.
Belajar dari Kegagalan
Percobaan pertama dan kedua gagal, tetapi siswa terus mengevaluasi arah angin dan teknik tarikan. Pada percobaan berikutnya, layang-layang akhirnya terbang stabil. Dari proses itu, siswa belajar productive failure—kegagalan yang membentuk ketangguhan dan growth mindset.
Bagi Bu Niswa, keberhasilan itu menunjukkan bahwa pembelajaran dapat hidup dan dekat dengan pengalaman nyata. Layang-layang menjadi simbol bagaimana pendidikan bisa terbang lebih tinggi. (cb1/niswah)