Share

Banser Husada: Garda Sehat di Tengah Santri Walk 2025

swaracendika.id
swaracendika.id

Share

swaracendika.id Udara pagi Kota Malang pada Ahad (9/11) terasa sejuk dan teduh, seolah ikut menyambut ribuan langkah bersarung yang memadati kawasan Balai Kota. Ribuan peserta tampak berbaris rapi, bersarung dan berbusana muslimah ala pesantren, sambil menunggu aba-aba dimulainya Santri Walk 2025.
Ketika lantunan Bismillahirrahmanirrahim terdengar dari pengeras suara, disambut hitungan mundur serempak, langkah-langkah penuh semangat itu pun dimulai.

Sambutan Pembuka KH. Dr. Isroqunnajah

Sebelum ribuan peserta mulai melangkah, Ketua PCNU Kota Malang, KH. Dr. Isroqunnajah, M.Ag., terlebih dahulu memberikan sambutan hangat.
Dengan suara tenang dan khas pesantren, beliau menegaskan makna kegiatan ini sebagai wujud rasa syukur dan cinta tanah air.

“Santri Walk ini bukan sekadar jalan sehat. Ini adalah tapak tilas perjuangan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan. Kita berjalan bersama, bersarung, berkhidmah, dan menunjukkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Gus Is juga mengingatkan bahwa sarung yang dikenakan para peserta bukan hanya kain penutup tubuh, melainkan simbol kesederhanaan, kemandirian, dan kebanggaan santri.

“Mengapa bersarung? Karena sarung adalah identitas kiai dan santri, simbol kesederhanaan, dan produk dalam negeri yang patut dibanggakan,” lanjutnya.

Banser Husada, Garda Sehat di Balik Kemeriahan

Namun di balik keceriaan dan tawa para peserta, ada barisan lain yang tak kalah penting: Banser Husada (Basada) — para penjaga sehat yang sejak pagi sudah bersiaga di setiap sudut rute.

Mereka datang lebih awal dari peserta. memakai seragam khas dengan logo Basada di dada, mereka menempati pos-pos strategis sambil membawa peralatan medis sederhana. Lima unit ambulans turut dikerahkan demi memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar:

  1. Ambulans PCNU di depan Balai Kota sebagai pengawal utama,
  2. Ambulans Tirta Medika di pertigaan SDN Kauman,
  3. Ambulans RSI Unisma di depan Depot Es Talun,
  4. Ambulans Abah Gino dari Masjid Ahmad Yani berjaga di depan RSIA Mitra Mulia,
  5. serta Ambulans NU Care Lowokwaru di Bundaran Tugu sebagai posko kesehatan utama.
Sigap, Ramah, dan Penuh Canda Khas Santri

Di setiap titik, personel Basada tampak sigap memantau peserta. Bila ada yang kelelahan, mereka segera menuntun dengan ramah, menawari air minum, bahkan sesekali melontarkan guyonan khas santri untuk mencairkan suasana.“Kalau capek ya berhenti dulu, yang penting sehat. Jalan sehat ini bukan lomba cepat-cepatan,” ujar Hudan, salah satu anggota Basada sambil tersenyum, menepuk pundak peserta yang mulai kepayahan.Canda sederhana itu justru membuat suasana makin hangat.

Tak hanya dari kalangan Basada, tenaga medis dari RSI Unisma, Tirta Medika, RSIA Mitra Mulia, serta kader Fatayat NU juga turut bergabung. Semua bekerja bahu-membahu menjaga kesehatan ribuan peserta yang memadati ruas jalan di sekitar Balai Kota.

Khidmah yang Tak Butuh Sorotan

Bagi Basada, tugas ini bukan sekadar pengabdian sosial, tetapi bentuk nyata dari semangat khidmah — melayani dengan hati.
Mereka bukan hanya tim medis lapangan, melainkan bagian dari ruh perjuangan Nahdlatul Ulama yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. “Banser Husada ini adalah santri yang mengabdi lewat jalan kesehatan,” ujar salah satu pengurus PCNU Kota Malang.
Mereka bukan hanya sigap, tapi juga punya rasa empati tinggi. Itulah yang membuat kegiatan seperti Santri Walk bisa berlangsung aman dan penuh berkah.” tambahnya dengan bangga

Di tengah lautan sarung yang melangkah pelan, barisan Banser Husada berjalan tanpa menuntut sorotan. Tapi justru di situlah keindahan mereka — menjadi tangan yang menolong, tanpa perlu dipanggil nama.(cb1/hudan)

Tag @

Share