Share

Drama Angkot Tuban Sebelum Ziarah Sunan Bonang

swaracendika.id
Ilustrasi di Terminal

Share

Swaracendika.id – Perjalanan ziarah wali yang seharusnya khidmat dan penuh ketenangan justru diawali dengan momen tak terduga. Rombongan peziarah berjumlah 38 orang yang hendak menuju makam Sunan Bonang di Tuban mendadak menjadi pusat perhatian para sopir angkot elf.

Sabtu sore, 31 Januari 2026. Begitu rombongan turun dari bus, suasana langsung berubah ramai. Para sopir angkot berbondong-bondong mendekat, mata mereka berbinar-binar melihat peluang rezeki besar datang sekaligus.

Tawaran bersahutan.

“Angkot sini, Pak!”

Rombongan yang baru saja menginjakkan kaki di Tuban mendadak seperti masuk arena “strategi rebutan penumpang”.

Yai Taufik Jadi Korban Utama

Di tengah situasi itu, Ketua Senat rombongan, Yai Taufik, menjadi sosok yang paling sering “diperebutkan”. Beliau bahkan tercatat beberapa kali naik-turun angkot.

“Pak Yai ke sini dulu!” teriak seorang sopir.

Belum sempat duduk nyaman, sopir lain langsung memanggil, “Pak Yai balik sini, kurang satu!”

Dengan wajah pasrah dan geleng-geleng kepala, Yai Taufik hanya mengikuti arahan para sopir yang terus bernegosiasi soal pembagian penumpang.

Jamaah lain mulai tertawa kecil melihat ketua rombongan seperti sedang menjalani “cardio dadakan” sebelum ziarah dimulai.

Ibu-Ibu Ikut Drama Naik Turun

Nasib lebih dramatis dialami beberapa ibu-ibu yang belum mendapatkan tempat duduk. Mereka sempat naik ke angkot pertama, turun lagi, pindah ke angkot kedua, turun lagi, lalu naik lagi.

Proses itu terjadi berulang kali sampai akhirnya mereka “dipaksa” masuk agar pembagian penumpang segera selesai.

Di tengah kondisi campur aduk antara bingung dan lelah, angin pantai Tuban yang cukup kencang membuat jilbab beberapa ibu mulai berantakan. Tas masih tersandang di bahu karena belum sempat diletakkan.

Mereka hanya saling pandang dan tersenyum kecut.

“Sabar ya, Bu. Ini sopirnya lagi rapat koordinasi,” celetuk salah satu jamaah sambil menahan tawa.

Candaan itu justru membuat suasana sedikit mencair.

Bangku Sempit, Jamaah Berjubel

Kondisi Bangku Sempit, Jamaah Berjubel tapi tetap penuh tawa

Di dalam angkot, suasana tak kalah unik. Beberapa bapak-bapak berbadan besar harus duduk berjejer di bangku sempit.

Ada yang duduk bertiga di bangku yang seharusnya hanya untuk dua orang. Bahkan ada yang setengah duduk sambil berpegangan.

Suasana canggung juga dialami Bu Khilfi yang harus duduk bersebelahan dengan Ustadz Sabar. Posisi duduknya kaku, tak berani banyak bergerak.

Meski begitu, perjalanan tetap berjalan dengan penuh gelak tawa kecil dari para jamaah.

Klimaks Terjadi Saat Pulang

Jika perjalanan berangkat sudah penuh drama, perjalanan pulang justru menjadi klimaksnya.

Setelah selesai berziarah di makam Sunan Bonang, rombongan kembali menuju tempat bus menunggu. Namun para sopir angkot kembali datang dan berebut penumpang seperti sebelumnya.

Jamaah kembali dipindah-pindahkan.

Namun kali ini, kesabaran rombongan sudah mencapai batasnya.

Bu Hesty Turun Tangan

Salah satu pengurus rombongan, Bu Hesty, akhirnya maju dengan suara tegas dan mimik wajah serius.

“Bapak-bapak, cukup! Dari tadi kami dipindah-pindah kayak barang. Sekarang kami yang atur sendiri. Bapak tinggal terima beres!” ujarnya lantang.

Suasana mendadak hening.

Para sopir yang tadi ramai langsung terdiam. Jamaah lain menahan senyum, campuran rasa lega dan gemas melihat tim mengambil alih situasi.

“Ibu-ibu masuk angkot pertama, bapak-bapak angkot kedua. Sudah selesai! Tidak usah dipindah-pindah lagi!”

Kali ini, tak ada yang berani protes. Para sopir hanya manggut-manggut nurut.

Dalam waktu singkat, semua jamaah sudah duduk tertib di angkot masing-masing tanpa drama naik-turun lagi.

Cerita yang Jadi Kenangan

Meski sempat menegangkan, suasana kembali cair ketika angkot mulai berjalan. Rombongan justru tertawa mengingat kejadian tersebut.

“Ternyata ujian kesabaran dimulai sebelum sampai di makam, dan ujian ketegasan dimulai saat pulang,” ujar salah satu jamaah sambil tersenyum.

Hingga kini, cerita itu masih sering dikenang oleh rombongan, baik soal “cardio”-nya Yai Taufik maupun aksi heroik Bu Hesty yang sukses menyelamatkan situasi.

Perjalanan ziarah pun akhirnya menjadi bukan hanya napak tilas spiritual, tetapi juga pengalaman penuh warna yang sulit dilupakan. [Sulis/Cb1]

Tag @

Share