Share

Desa Klampok Terapkan Sistem Seleksi Perangkat Desa Berbasis Teknologi, Transparansi Meningkat Signifikan

swaracendika.id: tim dosen Universitas Negeri Malang saat proses pelatihan SOP dan CBT untuk perangkat desa
swaracendika.id: tim dosen Universitas Negeri Malang saat proses pelatihan SOP dan CBT untuk perangkat desa

Share

Desa Klampok Terapkan Sistem Seleksi Perangkat Desa Berbasis Teknologi, Transparansi Meningkat Signifikan
Malang – Pemerintah Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, berhasil menerapkan sistem seleksi perangkat desa berbasis teknologi sebagai upaya meningkatkan transparansi dan profesionalisme dalam proses rekrutmen perangkat desa. Program ini merupakan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen Universitas Negeri Malang (UM) melalui skema dana internal tahun 2025.
Kegiatan yang bertajuk “Pembuatan SOP dan Instrumen Seleksi Perangkat Desa Berbasis Teknologi untuk Meningkatkan Transparansi Hasil dalam Upaya Mencapai Good Governance” ini diketuai oleh Mokhammad Nurruddin Zanky, S.Pd., M.Pd., Ph.D dengan anggota Choirul Anam, S.Pd., M.Pd., dan Sigit Permansyah, S.Pd., M.Pd.

Transparansi Seleksi Meningkat, Keluhan Masyarakat Menurun

Selama ini proses pemilihan perangkat desa di Desa Klampok kerap menghadapi masalah seperti kurangnya transparansi, alur seleksi yang tidak baku, serta minimnya pemanfaatan teknologi. Kondisi tersebut sering memunculkan ketidakpuasan dan potensi konflik sosial di masyarakat.
Melalui program ini, tim pengabdian merancang Standar Operasional Prosedur (SOP) dan sistem seleksi berbasis Computer Based Test (CBT) yang kemudian diuji coba secara langsung pada proses seleksi perangkat desa tahun 2025.
Hasilnya, proses seleksi berlangsung lebih cepat, akurat, dan transparan. Panitia mampu menampilkan hasil ujian secara otomatis dan terbuka, sehingga mengurangi keraguan masyarakat terhadap objektivitas hasil seleksi.
“Kami melihat perubahan besar dari proses seleksi sebelumnya. Sistem baru ini membuat hasil seleksi jauh lebih terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Kepala Desa Klampok dalam sesi evaluasi kegiatan.

Pelatihan dan Sosialisasi Menjadi Kunci Implementasi

Sebelum implementasi, tim UM memberikan pelatihan intensif kepada perangkat desa dan panitia seleksi mengenai penggunaan aplikasi CBT, pendaftaran daring, hingga mekanisme rekapitulasi nilai otomatis. Simulasi dilakukan di laboratorium komputer salah satu sekolah di Desa Klampok, mengingat desa belum memiliki fasilitas laboratorium sendiri.
Pelatihan ini dianggap sangat membantu perangkat desa yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan teknologi digital dalam proses administrasi seleksi.

Dampak Nyata dan Rencana Keberlanjutan

Program pengabdian ini telah menghasilkan beberapa capaian penting, antara lain:


1.SOP pemilihan perangkat desa berbasis teknologi yang resmi digunakan Pemerintah Desa Klampok.
2.Sistem seleksi berbasis CBT yang efektif mengurangi kesalahan manual dan mempercepat proses seleksi.
3.Peningkatan kepercayaan masyarakat, terlihat dari berkurangnya keluhan terkait proses seleksi.
4.Transformasi budaya kerja, dari sistem manual menuju administrasi digital berbasis data.


Pemerintah Desa Klampok berkomitmen untuk menerapkan sistem ini secara permanen pada seleksi perangkat desa berikutnya. Bahkan desa berniat mengembangkannya untuk layanan administrasi lain seperti manajemen surat, arsip digital, dan layanan informasi publik.
“Program ini bukan hanya membuat proses seleksi lebih fair, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi digital di pemerintahan desa,” imbuh tim pengabdian UM. (cb1/din)

Tag @

Share