Swaracendika.id – Keterbatasan modal bukan berarti usaha harus berhenti. Banyak pelaku usaha kecil tetap bertahan dengan mengandalkan kreativitas, kerja keras, dan kemampuan mengatur keuangan.
Hal inilah yang dikaji oleh tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Melalui penelitian internasional, keduanya mempelajari kehidupan Entrepreneurs in Poverty Conditions (EiPCs), yaitu wirausahawan yang menjalankan usaha di tengah keterbatasan ekonomi.
Penelitian ini bertujuan menemukan faktor penting yang membantu mereka bertahan dan mengembangkan usaha.
Delapan Faktor Penentu Keberhasilan Usaha
Ketua tim peneliti UM, Mokhammad Nurruddin Zanky, Ph.D., menjelaskan bahwa wirausahawan dalam kondisi terbatas memiliki cara bertahan yang khas.
Berdasarkan hasil penelitian, tim menemukan delapan faktor utama. Faktor tersebut meliputi kreativitas dan inovasi, keberanian mengambil risiko, daya tahan, serta kegigihan.
Selain itu, kepercayaan dan integritas juga menjadi modal penting. Pelaku usaha perlu menjaga hubungan baik dengan pelanggan, pemasok, dan masyarakat sekitar.
Faktor lainnya adalah kehematan dalam mengelola uang, perputaran modal yang cepat, serta kepercayaan kepada Tuhan. Ketiganya membantu pelaku usaha menjaga kegiatan bisnis tetap berjalan.
“Para pelaku usaha di garis keterbatasan ekonomi tidak hanya bertumpu pada teori bisnis konvensional, tetapi juga sangat mengandalkan kombinasi ketahanan mental, kejelian memanfaatkan perputaran arus kas, serta kekuatan spiritual,” ujar Mokhammad Nurruddin Zanky.
Kolaborasi Indonesia dan Malaysia
Penelitian ini mempertemukan keahlian akademisi dari dua negara. Dari UM, tim terdiri atas Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., Raisa Fitri, S.AB., M.M., dan Ahmad Maulana Rahmansyah, S.E., M.AB.
Dua mahasiswa UM, Ovin Ananta dan Satria Wira Yuda, juga terlibat dalam kegiatan penelitian. Sementara itu, tim UKM dipimpin oleh Prof. Mohd Hizam Hanafiah.
Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian diharapkan dapat membantu pemerintah dan lembaga pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, program pembinaan UMKM dapat disusun sesuai kebutuhan pelaku usaha di lapangan.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal. Kreativitas, ketekunan, kepercayaan, dan kemampuan mengelola sumber daya juga menjadi bekal penting untuk terus bertahan.
Editor: CB01