Swaracendika.id – Tidak semua karya lahir dari studio yang lengkap, peralatan canggih, atau waktu yang leluasa. Ada karya yang tumbuh dari ruang sederhana, percakapan antarguru, semangat siswa, dan kesediaan untuk terus mencoba meski waktu terasa begitu sempit.
Itulah perjalanan Fina Kalba T., guru produktif Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) dan siswa SMK Cendika Bangsa, dalam mengikuti Lomba Video Konten Literasi Kabupaten Malang. Berawal dari sebuah gagasan, perjuangan tersebut akhirnya mengantarkan mereka menjadi nominasi Finalis Terbaik kategori Pesan Literasi Inspiratif yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang.
Pencapaian ini bukan sekadar tentang sebuah predikat. Ada pengalaman baru, tantangan, kerja sama, dan pelajaran berharga yang mewarnai setiap tahap pembuatannya. Terlebih, kompetisi ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba produksi video dalam skala besar di Kabupaten Malang.
Sebuah Gagasan yang Tumbuh dari Semangat Literasi
Literasi tidak selalu harus disampaikan melalui lembaran buku atau tulisan panjang. Pesan tentang membaca, belajar, dan membangun budaya literasi juga dapat hadir melalui gambar, suara, dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semangat itulah yang menjadi salah satu landasan Bu Fina dan dua siswa DKV serta Ekowisata ketika menerima kesempatan mewakili SMK Cendika Bangsa dalam Lomba Video Konten Literasi. Kompetisi bertema Perkembangan, Budaya Baca, dan Literasi di Indonesia tersebut mengajak masyarakat Kabupaten Malang berusia 17–35 tahun untuk menyampaikan gagasan literasi melalui karya audio visual berdurasi 5–7 menit.
Kesempatan ini sekaligus menjadi tantangan. Bu Fina harus menerjemahkan gagasan literasi menjadi sebuah cerita yang menarik, memiliki pesan kuat, dan mudah dipahami penonton.
Dalam proses merancang konsep, ia tidak bekerja sendiri. Dua rekan guru, Bu Yuvila dan Bu Fidayah, turut memberikan dukungan melalui diskusi dan pengembangan ide. Percakapan demi percakapan menjadi awal terbentuknya naskah video.
Hanya dalam empat hari, naskah berhasil diselesaikan. Waktu yang relatif singkat tersebut menjadi langkah pertama dari perjalanan produksi yang ternyata membutuhkan energi dan ketekunan lebih besar.
Ketika Guru dan Siswa Menjadi Satu Tim Produksi
Setelah naskah selesai, pekerjaan berikutnya adalah mencari pemeran yang sesuai dengan karakter cerita. Bu Fina kemudian memilih Rizki Aldi sebagai pemeran guru, Lintang dari kelas XI DKV sebagai pemeran siswa laki-laki, serta Febri dari kelas X EKW sebagai pemeran siswa perempuan.

Sebelum kamera mulai merekam, Bu Fina menjelaskan alur cerita, karakter, dan pesan yang hendak disampaikan. Ia ingin setiap pemeran memahami bukan hanya dialog, tetapi juga makna di balik adegan yang dimainkan.
Perpustakaan SMK Cendika Bangsa dipilih sebagai salah satu lokasi utama pengambilan gambar. Ruang yang identik dengan aktivitas membaca dan belajar tersebut menjadi latar yang selaras dengan pesan literasi dalam video.
Persiapan pun dilakukan secara mandiri. Mulai dari menentukan lokasi, menyiapkan properti, mengatur adegan, hingga memastikan kebutuhan produksi tersedia.
Di sinilah kolaborasi terasa nyata. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga menjadi pengarah produksi. Sementara itu, siswa memperoleh pengalaman baru sebagai pemeran dalam sebuah karya kreatif.
Mengorbankan Waktu Istirahat, Menyelesaikan Adegan hingga Magrib
Proses kreatif tidak selalu berjalan dalam suasana yang nyaman. Bagi Bu Fina dan para siswa, tantangan terbesar justru datang dari keterbatasan waktu.
Pengambilan gambar dan perekaman voice over dilaksanakan pada 28–29 September 2026. Sementara itu, batas akhir pengumpulan karya ditetapkan pada 2 Oktober 2026.
Waktu yang tersedia sangat terbatas. Karena kegiatan produksi harus menyesuaikan jadwal pembelajaran, pengambilan gambar dilakukan saat istirahat kedua dan setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Ada waktu istirahat yang harus direlakan. Bahkan, proses pengambilan gambar dan perekaman suara beberapa kali berlangsung hingga waktu magrib. Para siswa yang terlibat pun baru dapat pulang setelah matahari terbenam.
Di tengah jadwal yang padat, setiap adegan harus diselesaikan dengan sebaik mungkin. Pengambilan gambar terkadang perlu diulang agar sesuai dengan naskah dan pesan cerita.
Bagi Bu Fina, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran tersendiri. Ia belajar mengatur waktu, mengarahkan pemeran, mengambil keputusan, sekaligus menjaga semangat tim agar pekerjaan tetap berjalan.
Di balik durasi video yang hanya beberapa menit, ternyata tersimpan waktu, tenaga, dan komitmen banyak orang.
Belajar Bahwa Sebuah Karya Tidak Berhenti pada Proses Perekaman
Setelah pengambilan gambar selesai, pekerjaan belum benar-benar usai. Justru ada tahap lain yang membutuhkan ketelitian, yaitu penyuntingan video.
Bu Fina mengerjakan proses penyusunan footage, pengaturan transisi, sinkronisasi gambar dan suara, penyuntingan akhir, hingga color grading. Ia juga mengolah rekaman voice over, memilih backsound bebas hak cipta, serta menambahkan sound effect untuk memperkuat suasana cerita.
Setiap potongan gambar harus disusun agar memiliki kesinambungan. Suara harus terdengar jelas. Sementara itu, musik latar perlu mendukung cerita tanpa mengganggu pesan utama.
Setelah melalui proses tersebut, video akhirnya siap dikumpulkan. Karya diunggah ke kanal YouTube dan tautannya disampaikan kepada panitia sebelum batas waktu 2 Oktober 2026.
Ada dinamika menarik dalam proses pengumpulan. Setelah Bu Fina menyelesaikan pengiriman sesuai tenggat awal, panitia menginformasikan adanya pengunduran batas akhir pengumpulan. Situasi tersebut sempat menghadirkan rasa kecewa karena pengerjaan sebelumnya dilakukan dengan sangat intensif untuk mengejar jadwal.
Namun, perjalanan belum selesai. Kesempatan berikutnya justru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas.
Masuk 50 Besar, Kesempatan Belajar dari Kreator Profesional
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Video karya perwakilan SMK Cendika Bangsa berhasil masuk dalam 50 besar karya terpilih.
Pencapaian ini memberikan kesempatan kepada Bu Fina untuk mengikuti pembekalan secara daring bersama pembuat konten profesional. Tahap tersebut menjadi ruang belajar sekaligus kesempatan mengevaluasi karya yang telah dibuat.
Masukan dari pembekalan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas video. Beberapa bagian footage dinilai masih perlu diperbaiki sehingga Bu Fina melakukan pengambilan gambar ulang.
Ia juga kembali memeriksa penggunaan musik latar agar benar-benar terbebas dari persoalan hak cipta. Penyuntingan dilakukan kembali dengan memperhatikan kualitas visual, audio, dan kesinambungan cerita.
Proses revisi mengajarkan satu hal penting: karya yang baik tidak selalu selesai dalam satu kali pengerjaan. Ada kalanya sebuah karya perlu dilihat kembali, dikritisi, dan diperbaiki agar pesan yang disampaikan semakin kuat.
Semangat untuk menerima masukan dan melakukan perbaikan menjadi bagian penting dari perjalanan Bu Fina. Ia tidak sekadar mengejar hasil akhir, tetapi juga memanfaatkan kompetisi sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan.
Finalis Terbaik, Buah dari Keberanian untuk Mencoba
Setelah melalui tahapan seleksi dan penyempurnaan karya, kabar membahagiakan akhirnya datang. Video perwakilan SMK Cendika Bangsa berhasil masuk nominasi Finalis Terbaik kategori Pesan Literasi Inspiratif.
Bagi Bu Fina, kabar tersebut menghadirkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan satu kata. Ada kebahagiaan, haru, sekaligus rasa takjub karena sebuah pengalaman pertama dapat membawanya sampai pada pencapaian tersebut.
Kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Malang ini menjadi pengalaman yang membuka banyak wawasan. Ia tidak hanya mendapatkan pengakuan atas karya yang dibuat, tetapi juga kesempatan untuk mengenali potensi diri dan mempelajari keterampilan baru.
Di balik nominasi tersebut, terdapat kontribusi banyak pihak. Dukungan Bu Yuvila dan Bu Fidayah dalam penyusunan naskah, keterlibatan Rizki Aldi, Lintang, dan Febri sebagai pemeran, serta kesediaan para siswa meluangkan waktu menjadi bagian penting dari keberhasilan proses produksi.
Sebuah karya memang dapat berawal dari satu gagasan, tetapi untuk mewujudkannya sering kali dibutuhkan banyak tangan yang saling mendukung.
Literasi Adalah Perjalanan untuk Terus Bertumbuh
Ada pelajaran yang lebih dalam dari perjalanan Bu Fina. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga keberanian mengembangkan gagasan, mengolah informasi, menyampaikan pesan, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
Melalui video tersebut, Bu Fina menunjukkan bahwa guru pun perlu terus menjadi pembelajar. Dunia pendidikan terus berkembang. Media penyampaian pengetahuan semakin beragam. Karena itu, kreativitas dan kemauan untuk mencoba hal baru menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pendidik.
Pengalaman ini juga membuktikan bahwa ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas. Proses produksi video menghadirkan pembelajaran tentang komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, manajemen waktu, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Ada sebuah kutipan yang menjadi refleksi sekaligus penguat semangat Bu Fina dalam menjalani proses tersebut:
“Mekarlah di mana pun takdir menjatuhkanmu. Tidak semua tanah akan menyambut akarmu dan tidak setiap musim membawa cahaya, tetapi tetaplah tumbuh walaupun perlahan dan tidak terlihat.”
Kalimat itu seolah merangkum perjalanan yang telah dilalui. Tidak semua proses berjalan sesuai harapan. Ada keterbatasan waktu, pekerjaan yang harus diulang, bahkan kekecewaan yang sempat hadir. Namun, semua itu tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
Bagi keluarga besar SMK Cendika Bangsa, pencapaian Bu Fina menjadi pengingat bahwa budaya literasi dapat tumbuh melalui berbagai cara. Buku, tulisan, diskusi, dokumentasi, hingga karya audio visual merupakan ruang yang sama-sama dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan inspirasi.
Pada akhirnya, nominasi Finalis Terbaik bukanlah garis akhir. Ia menjadi penanda bahwa keberanian untuk memulai, kesungguhan dalam berproses, dan kemauan untuk terus belajar dapat melahirkan sesuatu yang bermakna.
Sebab, seperti pesan yang diyakini Bu Fina, setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Tidak harus selalu cepat, tidak harus selalu sempurna. Yang terpenting adalah tetap berkarya, terus belajar, dan menghadirkan manfaat melalui setiap langkah yang dijalani.
Pewarta: Fina Kalba T. | Editor: Niswa