Swaracendika.id – Ada suasana berbeda di perpustakaan SMK Cendika Bangsa Kepanjen pada jam istirahat kedua, Senin dan Selasa (7–8/9/2026). Belasan siswa kelas X dan XI tampak berkonsentrasi membuat berbagai pola menggunakan garis dan bentuk sederhana.
Kegiatan tersebut merupakan pelatihan Zentangle yang dipandu oleh Dini Ayu Kholili, guru PKN SMK Cendika Bangsa yang aktif dalam kegiatan seni dan pembuatan Zentangle.
Tidak sekadar mengajarkan keterampilan menggambar, kegiatan ini dirancang untuk mengajak siswa menikmati proses berkarya sekaligus melatih fokus. Hasil karya mereka nantinya akan dimanfaatkan sebagai pembatas buku kreatif untuk perpustakaan sekolah.
Berawal dari Satu Hari, Berlanjut Menjadi Dua Hari
Pelatihan dilaksanakan pada pukul 12.30 WIB, bertepatan dengan waktu istirahat kedua. Pada awalnya, kegiatan hanya direncanakan berlangsung selama satu hari.
Namun, antusiasme siswa membuat rencana tersebut berkembang. Pada akhir sesi pertama, sejumlah siswa merasa karya yang dibuat masih belum selesai. Mereka juga masih ingin melanjutkan eksplorasi pola yang telah dipelajari.

Akhirnya, kegiatan dilanjutkan pada Selasa (8/9/2026). Kesempatan tersebut digunakan siswa untuk menyelesaikan sekaligus menyempurnakan karya mereka.
Peserta kegiatan berasal dari siswa kelas X dan XI yang aktif dalam kegiatan literasi. Suasana belajar pun berlangsung santai karena siswa dapat mengembangkan pola sesuai kreativitas masing-masing.
Tidak Ada Salah dalam Zentangle
Zentangle memiliki karakter yang berbeda dari kegiatan menggambar pada umumnya. Pola yang digunakan cenderung sederhana, berulang, dan tersusun secara teratur.
Dini Ayu menjelaskan salah satu prinsip penting dalam Zentangle adalah tidak berfokus pada benar atau salahnya sebuah gambar.
“Aturan Zentangle adalah tidak ada kata salah dan fokus pada proses.”
Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan. Siswa tidak diarahkan untuk menghasilkan gambar yang harus seragam atau sempurna. Setiap goresan justru dapat dikembangkan menjadi pola baru.
Melalui proses tersebut, siswa diajak untuk lebih menikmati aktivitas yang sedang dilakukan. Konsentrasi pada garis dan pola membuat kegiatan berlangsung dengan suasana yang tenang.
Mengenal Pola Dasar Zentangle
Dalam pelatihan, siswa diperkenalkan dengan sejumlah pola dasar Zentangle. Beberapa di antaranya adalah Crescent Moon, Hollibaugh, Printemps, dan Knightbridge.
Crescent Moon merupakan pola berbentuk setengah lingkaran yang dilengkapi garis luar atau aura. Sementara itu, Hollibaugh menggunakan garis lurus yang dibuat saling tumpang tindih sehingga menghasilkan tampilan seperti anyaman.

Ada pula Printemps, yaitu pola spiral kecil yang dibuat berulang dan rapat. Sedangkan Knightbridge menghasilkan bentuk geometris dengan susunan yang menyerupai papan catur.
Pola-pola tersebut menjadi dasar bagi siswa untuk membuat desain masing-masing. Dari pola sederhana, siswa dapat menyusun komposisi yang lebih kompleks sesuai imajinasi.
Seni, Literasi, dan Mindfulness
Pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat pelatihan Zentangle memberikan warna baru dalam kegiatan literasi di SMK Cendika Bangsa. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas.
Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan konsep mindfulness kepada siswa. Dengan memberikan perhatian penuh pada proses menggambar, siswa diajak untuk sejenak mengurangi gangguan dan memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Zentangle juga diharapkan dapat menjadi salah satu kegiatan positif ketika siswa sedang merasa penat, mengalami stres, atau menghadapi pikiran yang terlalu penuh.
Selain Zentangle, terdapat sejumlah aktivitas seni yang memiliki pendekatan serupa, di antaranya Manggala dan doodle art. Masing-masing memiliki karakter dan bentuk eksplorasi yang berbeda, tetapi sama-sama memberikan ruang bagi seseorang untuk menuangkan kreativitas melalui pola dan gambar.
Pembatas Buku dengan Sentuhan Karya Siswa
Karya yang dihasilkan dalam pelatihan ini tidak berhenti sebagai latihan di atas kertas. Siswa diarahkan untuk membuat karya yang dapat digunakan sebagai pembatas buku di perpustakaan sekolah.
Hal tersebut memberikan makna tambahan dalam kegiatan. Siswa bukan hanya belajar membuat karya seni, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat bagi lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan sederhana ini, literasi di SMK Cendika Bangsa dipadukan dengan kreativitas. Buku, perpustakaan, seni, dan proses belajar bertemu dalam satu aktivitas yang dilakukan siswa di sela-sela waktu istirahat.
Bagi siswa, satu garis mungkin terlihat sederhana. Namun ketika garis tersebut disusun berulang menjadi pola, kemudian dirangkai menjadi sebuah karya, proses itu mengajarkan satu hal penting: berkarya tidak selalu tentang hasil yang sempurna, tetapi tentang kesediaan untuk terus mencoba dan menikmati setiap prosesnya.