Nama Pak Gopung tidak bisa dipisahkan dari SMK Cendika Bangsa. Sejak tahun 2006, beliau telah mengabdikan diri sebagai bagian dari sejarah panjang sekolah ini. Bahkan jauh sebelum bangunan sekolah berdiri megah, Pak Gopung sudah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di tempat ini atas ajakan kepala sekolah pertama.
Awal Mula Pendirian SMK Cendika Bangsa
Pertemuan awal Pak Gopung dengan Bapak Hasan (Abah) sudah terjalin sejak lama. Pada tahun 2005–2006, semangat membangun lembaga pendidikan mulai dirintis. Ide awal pendirian sekolah datang dari Bapak Hanif dan Bapak Hasan.
Menariknya, Bapak Hasan dulunya adalah seorang dosen, bukan guru. Namun setelah SMK dibangun, beliau pun menjadi guru. Siapa sangka, sebelum menjadi sekolah, tempat itu hanyalah sawah yang kemudian ditanami pohon pisang.
Latar Belakang Akademik yang Tidak Biasa
Secara latar belakang akademik, Pak Gopung bukanlah lulusan bimbingan konseling. Beliau berasal dari dunia teknik dan pernah menempuh pendidikan di SMK Permesinan. Selanjutnya, beliau melanjutkan kuliah di jurusan ekonomi.
Namun karena sistem rotasi jabatan di sekolah, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai guru konseling (BK). Awalnya, beliau merasa bingung karena masih banyak guru lain yang memiliki latar belakang konseling.
Panggilan Hati Menjadi Konselor Sekolah
Menjadi seorang konselor di lingkungan sekolah bukanlah pilihan yang didasarkan semata-mata pada latar belakang akademik formal. Banyak dari mereka yang mengemban peran ini karena merasa bahwa ini adalah panggilan hati. Selain itu, mereka melihat ini sebagai amanah yang harus dijalankan, bukan sekadar jabatan atau posisi.
Salah satu alasan utama memilih menjadi konselor adalah rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan generasi muda. Oleh karena itu, keinginan untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit dengan pendekatan yang penuh empati dan moral menjadi prioritas.
Adaptasi Tanpa Latar Belakang Konseling
Dalam pengalaman pribadi, Pak Gopung tidak memiliki latar belakang akademik khusus di bidang konseling. Sistem rotasi jabatan di sekolah menyebabkan beliau harus beradaptasi dengan cepat. Baginya, sekolah adalah rumah kedua, tempat di mana ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak didik.
Komitmen ini muncul dari keyakinan bahwa amanah adalah hal yang harus dijaga. Dengan demikian, tidak peduli apapun posisi atau jabatan yang diemban, tanggung jawab harus tetap dijalankan.
Prinsip Pengabdian dalam Bimbingan Konseling
Bagi Pak Gopung, menjadi konselor adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral. Beliau percaya bahwa sebagai orang tua di lingkungan sekolah, peranannya sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Bahkan ketika terjadi rotasi jabatan, beliau tidak merasa ragu karena memahami bahwa amanah adalah hal utama.
Pendekatan Tegas dan Mendidik
Sebagai orang teknik dan lulusan SMK Permesinan serta kuliah di jurusan ekonomi, Pak Gopung memiliki pengalaman yang unik. Beliau suka memantau dan mendampingi siswa secara langsung, terutama dalam hal moral dan mental. Beliau dikenal tegas, terutama dalam memberi hukuman yang sifatnya mendidik.
Hukuman seperti push-up atau membaca diberikan bukan untuk menyakiti. Sebaliknya, hukuman tersebut memberikan efek jera dan mengingatkan bahwa ucapan dan perbuatan harus bertanggung jawab.
Motivasi Menjadi Pembimbing Moral
Salah satu hal yang memotivasi beliau menjadi konselor adalah rasa malu dan tanggung jawab moral. Perasaan ini muncul ketika melihat siswa-siswinya berbuat tidak pantas. Beliau merasa bahwa sebagai orang dewasa, ia harus menjadi teladan dan pembimbing moral bagi mereka.
Prinsip ini sudah tertanam sejak lama, bahkan sebelum menjadi bagian dari bimbingan konseling (BK). Oleh karena itu, menjadi konselor adalah seperti menjadi orang tua kedua bagi siswa.
Peran Mediator untuk Siswa Broken Home
Pak Gopung selalu berusaha memberikan pengertian dan mendampingi siswa yang menghadapi masalah keluarga. Misalnya, siswa broken home yang tinggal bersama nenek seringkali memerlukan perhatian khusus. Beliau menyadari bahwa siswa dari keluarga tidak harmonis seringkali sulit diajak bicara.
Hal ini terjadi karena komunikasi dengan orang tua yang kurang baik. Dalam situasi tersebut, beliau berperan sebagai mediator dan pendengar yang sabar. Beliau tahu bahwa masalah terbesar terletak pada hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak.
Tantangan Menghadapi Generasi Z dan Alpha
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah siswa yang berasal dari keluarga broken home. Mereka cenderung sulit diajak bicara karena tidak memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Selain itu, hubungan antara siswa dan orang tua yang kurang harmonis sering menjadi hambatan utama.
Terkadang, mereka merasa kurang mendapatkan perhatian dan pengertian. Akibatnya, kepercayaan diri mereka tinggi tetapi moral dan attitude masih kurang. Generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik yang unik dalam hal ini.
Menyeimbangkan Kepercayaan Diri dan Moral
Generasi Z dan Alpha cenderung kurang memiliki moral dan attitude yang baik. Di sisi lain, mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik dan konselor untuk menyeimbangkan antara memperkuat moral dan memanfaatkan kepercayaan diri mereka.
Salah satu hal yang paling dibutuhkan siswa adalah perhatian dan pengakuan. Mereka sering merasa kurang diperhatikan dan dihargai, padahal kebutuhan akan pengakuan sangat penting. Dengan demikian, bimbingan moral dan emosional yang konsisten diperlukan agar mampu menghadapi berbagai tantangan hidup.
Kesimpulan: Konselor Sebagai Jembatan Pendidikan
Menjadi konselor bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah panggilan hati yang dilandasi oleh rasa tanggung jawab. Keinginan untuk membantu generasi muda menjadi pribadi yang lebih baik menjadi motivasi utama. Melalui pendekatan yang penuh empati, disiplin yang mendidik, dan komunikasi yang terbuka, siswa-siswi mampu menghadapi masa depan dengan percaya diri.
Peran orang tua di sekolah sangat vital dalam proses ini. Konselor adalah jembatan yang menghubungkan mereka dalam membangun karakter dan moral anak-anak bangsa. Oleh karena itu, pengabdian dalam bidang bimbingan konseling memiliki dampak jangka panjang yang sangat berarti. [Widya/cb1]