Swaracendika.id – Keluarga besar SMK Cendika Bangsa Kepanjen menggelar doa bersama untuk Almarhum Bapak Rurid Rudianto, ST., pada Senin pagi. Kegiatan ini menggantikan agenda rutin upacara bendera awal pekan. Suasana sekolah berlangsung khidmat dan penuh haru.
Doa bersama tersebut menjadi bentuk penghormatan terakhir atas wafatnya mantan pendidik teknik di sekolah itu. Almarhum meninggal dunia pada Ahad, 8 Februari 2026. Beliau adalah guru angkatan pertama yang turut serta merintis berdirinya sekolah.
Upacara Diganti Tahlil dan Doa Bersama
Biasanya, setiap Senin pagi siswa mengikuti upacara bendera. Namun kali ini, sekolah mengubah format kegiatan. Sebagai gantinya, seluruh peserta mengikuti pembacaan tahlil dan doa bersama.
Langkah ini diambil sebagai bentuk takziyah kolektif. Selain itu, kegiatan juga menjadi sarana pendidikan karakter tentang adab dan penghormatan kepada guru.
Doa Dipusatkan di Ruang Praktik Siswa
Acara dilaksanakan di gedung Ruang Praktik Siswa atau RPS. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan khusus. Semasa mengajar, almarhum banyak mengabdikan waktu di ruang praktik tersebut.
Karena itu, RPS dianggap sebagai simbol dedikasi beliau. Terutama dalam membimbing keterampilan dan kompetensi teknis para siswa.
Diikuti Siswa dan Seluruh Civitas Sekolah
Kegiatan doa bersama diikuti oleh banyak unsur sekolah. Antara lain siswa kelas X dan kelas XI. Selain itu, guru dan karyawan yang bertugas pada hari Senin juga hadir.
Seluruh peserta mengikuti rangkaian tahlil dengan tertib. Suasana hening terasa selama lantunan doa dibacakan bersama.
Mengenang Sosok Guru Berdedikasi
Dalam sela kegiatan, perwakilan guru menyampaikan kesan terhadap almarhum. Menurutnya, Rurid Rudianto dikenal sebagai pendidik yang tekun dan total dalam mengajar.
“Kegiatan ini adalah bentuk takzim kami. Beliau bukan hanya rekan kerja. Namun juga guru dengan dedikasi tinggi. Semoga doa yang dipanjatkan menjadi penerang jalan beliau,” ujarnya.
Harapan dan Doa Keluarga Besar Sekolah
Melalui doa bersama ini, keluarga besar SMK Cendika Bangsa menyampaikan harapan terbaik. Semoga almarhum mendapat tempat mulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, sekolah juga mendoakan agar seluruh amal ibadahnya diterima. Sementara itu, keluarga yang ditinggalkan diharapkan memperoleh ketabahan dan kekuatan.
Penghormatan ini menjadi pengingat bahwa jasa guru tetap hidup dalam jejak ilmu yang ditinggalkan. Nama boleh berpulang, tetapi pengabdian terus bergaung di ruang belajar. [Veni/Cb1]